Beberapa tahun belakangan, saya baru menyadari bahwa saya begitu menikmati momen-momen ketika saya menyaksikan sebuah pertunjukan, apapun jenisnya. Saya suka menonton pementasan teater, pagelaran tari, konser musik, juga pertunjukan-pertunjukan seni tradisi (terutama di masa kecil saya). Kadang-kadang, saya sedih dan kecewa ketika pertunjukan yang saya saksikan ternyata tidak cukup mengesankan. Tapi sesungguhnya, baru beberapa tahun belakangan ini saya sadari, di luar apa yang terjadi di atas panggung, saya selalu suka dengan saat-saat ketika saya melebur dengan orang-orang lain yang secara kolektif disebut sebagai “penonton”. Saya menikmati betul menjadi bagian dari orang-orang yang tertawa ketika di panggung ada sesuatu yang terasa lucu, yang bertepuk tangan ketika pertunjukan usai, yang merasa kecewa ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan.
Latest News
Archives
Links
Diterbitkan oleh
Didukung oleh
Tatapan Penonton
Biografi Penonton Teater di Indonesia: Yang Retak dan Bergerak
Sunday, August 29th, 2004Nonton Bola di Gajayana: Sebuah Catatan Lapangan
Thursday, August 12th, 2004Laki-laki muda sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter palig fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Wayang Air: Sebuah Pertunjukan Eksploratif
Monday, April 26th, 2004Pada tahun 2003 Slamet Gundono mengguriskan suatu penjelajahan baru dalam kiprahnya di dunia seni pertunjukan. Kata baru pada pernyataan di atas merujuk pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Jika sebelumnya Slamet Gundono dikenal sebagai orang yang mempopulerkan Wayang Gremeng, Wayang Mbeling, Wayang Nglindur dan Wayang Suket, kali ini dia menyebut repertoirnya dengan istilah yang tidak kurang memancing rasa ingin tahu: Wayang Air.
Adam Perempuan dari Makassar TEATER DARI METAFORA TANPA JENIS KELAMIN
Friday, April 23rd, 2004Teater datang padamu seperti rumah metafora. Menghidupkan kembali memorimu (yang telah menjadi “binatang penafsir* dalam berbagai bentuk prasangka). Merajutnya menjadi sebuah konstruksi lain yang mungkin akan membuatmu heran, karena memorimu akan menjelma menjadi banyak jendela untuk melihat kembali kualitas kehidupan pribadimu dan kehidupan di sekitarmu.
Rumah metafora itu bukanlah sebuah keputusan kualitatif juga bukan keputusan moral. Dia hanya bekerja membuat permainan di tingkat pengkodean (berbagai konsep yang menjadi sumber penjelasan dalam kehidupan komunikasi). Maka jangan sedih kalau ada seorang perempuan membuat penis lelaki dari tepung dan mentega, lalu mulai membongkar lorong gelap wacana lelaki dari mitos Adam dalam sebuah pertunjukan yang dibuatnya.

