20 May 2012 06:53:08 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Tatapan Pelaku

Berkunjung ke Kaki Gunung: Sebuah Percakapan dengan Komunitas Tutup Ngisor

Tuesday, January 31st, 2006

Akhir bulan Desember 2002, tepatnya hari Minggu tanggal 28, saya dan beberapa aktor Teater Garasi berkunjung ke dusun Tutup Ngisor di kaki Gunung Merapi. Di dusun yang masuk wilayah Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, terdapat sebuah komunitas seni bernama Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor. Kunjungan ini adalah bagian dari proses penciptaan ‘Waktu Batu’, sebuah repertoar yang saat itu tengah kami persiapkan.

STB: Tonggak Sejarah Teater Klangenan

Thursday, January 12th, 2006

Entah siapa yang mula-mula mengumandangkan bahwa Studiklub Teater Bandung (STB) adalah kelompok teater (modern) tertua di Indonesia. Jika anggapan itu memang penting dalam wacana teater Indonesia, sudah barang tentu diperlukan parameter tersendiri untuk dijadikan ukuran atau patokan: dalam konteks seperti apa STB layak dinilai sebagai kelompok teater tertua di Indonesia.

Sehubungan dengan hal di atas, ada dua sudut pandang yang cukup berhraga untuk dilihat yang ditawarkan dua tokoh sejarawan teater dan budayawan di kota Bandung. Kedua tokoh itu adalah Jakob Sumardjo dan Saini KM.

Lelaki Besi di Balik Karya Besi; Sebuah Wawancara dengan Lik War, Tukang Las, Temannya Seniman

Sunday, July 31st, 2005

Semula lelaki hitam dengan bekas-bekas luka di tangan ini datang ke Jogja untuk membuka warung pecel lele, tetapi peristiwa-peristiwa telah menggiringnya ke arah lain. Warsito, lelaki itu, kini telah tegak di samping (untuk menghindari kata di belakang) karya-karya beberapa seniman Jogjakarta, khususnya perupa, dan khususnya karya-karya yang menggunakan bahan dasar besi. Nindityo Adipurnomo, Samuel Indratma, Bambang ‘Toko’ Wicaksono, Vensha, Jompet, Moh. Marzuki, Teater Garasi dan beberapa nama lain telah memetik hikmah keahlian lelaki ini dalam mewujudkan ide-ide mereka. Profesinya sebagai tukang las telah membuka jalan hidupnya ke wilayah yang semula hanya disimpan jauh-jauh dalam mimpinya: dunia kesenian.

Masuk, di Dalam, dan di Luar Peran

Sunday, August 29th, 2004

Di mata khalayak luas, pria jangkung berpawakan ceking ini dikenal sebagai seorang penari handal yang sering membawakan peran-peran wanita humoris. Citra Didik Hadiprayitno sebagai penari humor menegas ketika pada tahun 1980-an di Yogyakarta ia sukses dengan pemunculan karya tarinya yang menggambarkan sosok boneka kayu permainan anak-anak di Jawa tempo dulu—nini thowok—secara jenaka. Nama boneka itu kemudian menjadi nama populer yang disandangnya hingga kini. Meskipun nama Didik Nini Thowok seakan identik dengan tari humor, dan humor sering dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak serius atau selera rendah, perbincangan dengan Mas Didik seperti disajikan di bawah ini menampik asumsi umum itu. Humor tidak sekedar main-main; untuk dapat memainkan peran humoris dengan baik diperlukan keseriusan.

WAYANG AIR; BIOGRAFI YANG MENGALIR

Monday, April 26th, 2004

Dorothea Quin bangkit dari tidurnya, dari bak mandi, seperti bangun dari sebuah mimpi buruk atau telaga. Air memancar dari selang plastik yang digenggamnya. Memancar ke mana-mana. Seperti berusaha bercerita tentang sesuatu yang baru saja menghantuinya. Ia melecut selangnya beberapa kali sebelum dengan sebuah kemarahan, yang sangat, ia berdiri tegak di atas gigir bak dan menggoyangkannya sekuat tenaga. Air di bawah tubuhnya bergolak. Mendidih. Sementara ia terus melecutkan selangnya membabi buta, menyampaikan air sejauh mungkin.

anatomi adam dalam kegelapan

Friday, April 23rd, 2004

teater tumbuh di halaman rumahmu, mengarah ke sinar matahari. dan semua benda beredar di sekitar panca inderamu. semua teks keluar dari tubuhmu, memantulkan dirimu yang lain. yang terus merasa asing. kau harus menelan obat tidur agar bisa melupakannya.

tapi di dalam rumahmu ada puisi dan mitos. puisi dan mitos yang tak bisa kau lupakan begitu saja. puisi dan mitos yang terus mereproduksi dirinya. lalu kau membawanya ke dalam teater yang tumbuh di halaman rumahmu. rumah yang kau bangun dari tepung. rumah, tempat segalanya bermula; tempat kenyataan–kenyataan tersembunyi yang sifatnya personal kau umumkan kepada orang banyak sebagai upaya defakasi (pembebasan-diri,-ed.) dirimu. rumah tempatmu membawa pulang seluruh pemahaman baru tentang hidup yang kian menebal.

Memori Tradisi dalam Teater Asia Ramli Prapanca; sebuah wawancara

Friday, April 23rd, 2004

“Aku hidup di dua dunia: Teater dan Puisi. Seluruh pikiran dan perasaan kutumpahkan di sana”, berulang ia nyatakan ini pada banyak orang, seperti hendak menegaskan dirinya. Ia, Asia Ramli Prapanca, salah satu sutradara teater terkuat di Makassar saat ini. Karya-karyanya, dari beberapa yang sempat saya saksikan secara langsung maupun lewat dokumentasi video pertunjukannya, selalu tampil dalam logika narasi dan idiom-idiom visual yang imajinatif, liar, lucu dan mengejutkan. Idiom-idiom visual dalam pertunjukannya yang kuat itu merupakan hasil kerjasamanya yang panjang dengan Is Hakim, penata skenografi dan aktor Teater Kita, yang berulang ia nyatakan pada saya di sepanjang wawancara ini.