Ary Sutedja, sekretaris umum festival, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa kelompok penggagas JakArt ini adalah sekelompok seniman dan bukan kelompok atau institusi event-organizer. Melalui pernyataan ini saya kemudian melihat bahwa festival ini (disadari atau tidak) adalah sebentuk representasi dari upaya seniman dalam membangun relasinya dengan berbagai peran di wilayah jelajah medan kreatifnya (negara, masyarakat penonton, seniman lain). Sebagai representasi, siapa (yang terlibat), apa, dan bagaimana JakArt tentu saja tidak dimaksudkan sebagai generalisasi atas seluruh seniman di Indonesia. Demikian juga halnya dengan narasi-narasi yang tercipta di dalamnya. Tetap saja narasi-narasi itu merupakan peristiwa-peristiwa spesifik dalam festival keliling JakArt@2004 yang baru lalu.
Latest News
Archives
Links
Diterbitkan oleh
Didukung oleh
Review
Membaca Taktik: Catatan dari Festival A la Carte, JakArt@2004
Monday, August 30th, 2004Masuk, di Dalam, dan di Luar Peran
Sunday, August 29th, 2004Di mata khalayak luas, pria jangkung berpawakan ceking ini dikenal sebagai seorang penari handal yang sering membawakan peran-peran wanita humoris. Citra Didik Hadiprayitno sebagai penari humor menegas ketika pada tahun 1980-an di Yogyakarta ia sukses dengan pemunculan karya tarinya yang menggambarkan sosok boneka kayu permainan anak-anak di Jawa tempo duluânini thowokâsecara jenaka. Nama boneka itu kemudian menjadi nama populer yang disandangnya hingga kini. Meskipun nama Didik Nini Thowok seakan identik dengan tari humor, dan humor sering dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak serius atau selera rendah, perbincangan dengan Mas Didik seperti disajikan di bawah ini menampik asumsi umum itu. Humor tidak sekedar main-main; untuk dapat memainkan peran humoris dengan baik diperlukan keseriusan.
Reality (Show) Bites Kenyataan dan Tontonan di Televisi
Sunday, August 29th, 2004Belakangan di televisi banyak digunakan istilah yang segera menjadi akrab di telinga banyak orang. Sementara itu, beberapa media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) berupaya memadankannya dengan kata dalam bahasa Indonesia, acara kenyataan; entah sebab jengah atau merasa bersalah. Bicara singkat, ada dua kata (konsep) yang dijejer di sini: kenyataan dan acara (yakni tontonan, atau âbukanâ kenyataan). Bagaimana bisa?
Pameran Seni Rupa Mengenal Ras: Catatan Saksi Mata
Sunday, August 29th, 2004Saya memaknai penonton sebagai sebagai konsumen dunia seni rupa. Konsumen di sini tidak selalu berarti kolektor karya seni rupa, tapi mereka yang mempergunakan atau yang menggunakan daya aksesnyaâsecara aktif maupun pasifâterhadap segala sisi dunia seni rupa, terutama galeri/ruang pamer.
Selama ini keadaan mengenai dunia seni rupa di Indonesia diwakili oleh tulisan-tulisan kritik seni di media-media massaâterutama yang menyediakan rubrik/halaman khusus seni. Dan tentu model tulisan yang ada di sana adalah tulisan-tulisan yang serius, dibuat oleh para kritikus/teorisi/pemerhati seni rupa, berisi analisa-analisa tertentu atas fenomena seni rupa terkini. Tulisan ini dibuat untuk mendengar ucapan-ucapan, pendapat, komentar dari sisi penonton mengenai acara seni rupa yang dihadirinya, yang mungkin tidak pernah mendapat tempat dalam tulisan-tulisan seni rupa di media massa.
Biografi Penonton Teater di Indonesia: Yang Retak dan Bergerak
Sunday, August 29th, 2004Beberapa tahun belakangan, saya baru menyadari bahwa saya begitu menikmati momen-momen ketika saya menyaksikan sebuah pertunjukan, apapun jenisnya. Saya suka menonton pementasan teater, pagelaran tari, konser musik, juga pertunjukan-pertunjukan seni tradisi (terutama di masa kecil saya). Kadang-kadang, saya sedih dan kecewa ketika pertunjukan yang saya saksikan ternyata tidak cukup mengesankan. Tapi sesungguhnya, baru beberapa tahun belakangan ini saya sadari, di luar apa yang terjadi di atas panggung, saya selalu suka dengan saat-saat ketika saya melebur dengan orang-orang lain yang secara kolektif disebut sebagai âpenontonâ. Saya menikmati betul menjadi bagian dari orang-orang yang tertawa ketika di panggung ada sesuatu yang terasa lucu, yang bertepuk tangan ketika pertunjukan usai, yang merasa kecewa ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan.
Nonton Bola di Gajayana: Sebuah Catatan Lapangan
Thursday, August 12th, 2004Laki-laki muda sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter palig fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
Wayang Air: Sebuah Pertunjukan Eksploratif
Monday, April 26th, 2004Pada tahun 2003 Slamet Gundono mengguriskan suatu penjelajahan baru dalam kiprahnya di dunia seni pertunjukan. Kata baru pada pernyataan di atas merujuk pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Jika sebelumnya Slamet Gundono dikenal sebagai orang yang mempopulerkan Wayang Gremeng, Wayang Mbeling, Wayang Nglindur dan Wayang Suket, kali ini dia menyebut repertoirnya dengan istilah yang tidak kurang memancing rasa ingin tahu: Wayang Air.
WAYANG AIR; BIOGRAFI YANG MENGALIR
Monday, April 26th, 2004Dorothea Quin bangkit dari tidurnya, dari bak mandi, seperti bangun dari sebuah mimpi buruk atau telaga. Air memancar dari selang plastik yang digenggamnya. Memancar ke mana-mana. Seperti berusaha bercerita tentang sesuatu yang baru saja menghantuinya. Ia melecut selangnya beberapa kali sebelum dengan sebuah kemarahan, yang sangat, ia berdiri tegak di atas gigir bak dan menggoyangkannya sekuat tenaga. Air di bawah tubuhnya bergolak. Mendidih. Sementara ia terus melecutkan selangnya membabi buta, menyampaikan air sejauh mungkin.
Adam Perempuan dari Makassar TEATER DARI METAFORA TANPA JENIS KELAMIN
Friday, April 23rd, 2004Teater datang padamu seperti rumah metafora. Menghidupkan kembali memorimu (yang telah menjadi âbinatang penafsir* dalam berbagai bentuk prasangka). Merajutnya menjadi sebuah konstruksi lain yang mungkin akan membuatmu heran, karena memorimu akan menjelma menjadi banyak jendela untuk melihat kembali kualitas kehidupan pribadimu dan kehidupan di sekitarmu.
Rumah metafora itu bukanlah sebuah keputusan kualitatif juga bukan keputusan moral. Dia hanya bekerja membuat permainan di tingkat pengkodean (berbagai konsep yang menjadi sumber penjelasan dalam kehidupan komunikasi). Maka jangan sedih kalau ada seorang perempuan membuat penis lelaki dari tepung dan mentega, lalu mulai membongkar lorong gelap wacana lelaki dari mitos Adam dalam sebuah pertunjukan yang dibuatnya.
anatomi adam dalam kegelapan
Friday, April 23rd, 2004teater tumbuh di halaman rumahmu, mengarah ke sinar matahari. dan semua benda beredar di sekitar panca inderamu. semua teks keluar dari tubuhmu, memantulkan dirimu yang lain. yang terus merasa asing. kau harus menelan obat tidur agar bisa melupakannya.
tapi di dalam rumahmu ada puisi dan mitos. puisi dan mitos yang tak bisa kau lupakan begitu saja. puisi dan mitos yang terus mereproduksi dirinya. lalu kau membawanya ke dalam teater yang tumbuh di halaman rumahmu. rumah yang kau bangun dari tepung. rumah, tempat segalanya bermula; tempat kenyataanâkenyataan tersembunyi yang sifatnya personal kau umumkan kepada orang banyak sebagai upaya defakasi (pembebasan-diri,-ed.) dirimu. rumah tempatmu membawa pulang seluruh pemahaman baru tentang hidup yang kian menebal.

