7 February 2012 12:52:49 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Saturday, July 1st, 2006

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Indonesian Dance Festival dan Fenomena Tari Indonesia Hari Ini

Saturday, July 1st, 2006

Jika boleh, saya sedang ingin membayangkan sebuah peristiwa bernama festival. Apa yang terbayang kemudian adalah kesemarakan. Pesta dan perayaan. Ada yang datang, ada yang berinteraksi, ada yang diperhatikan, ada yang memperhatikan, dan ada perbincangan.

Demikian pula yang saya bayangkan pada sebuah peristiwa bernama Indonesian Dance Festival (IDF). Peristiwa ini terasa khusus, karena yang datang bukan kalangan yang beragam dan dari segala lapisan. Tetapi ini adalah ajang tempat berkumpulnya kalangan tari. Ya, IDF adalah pestanya orang tari. Penari, penata tari, pengamat, pekerja, pemerhati tari, peminat tari, semuanya berkumpul di sini.

Jalur 17: Jalur (Teater) yang Tanggung

Tuesday, January 31st, 2006

Harga BBM naik, maka semua harga barang pun ikut naik. Kondisi ini membuat Rini (kakak) dan Rio (adik) merasa perlu untuk meminta kenaikan uang saku pada orang tua mereka. Di lain sisi mereka tahu bahwa hal ini akan mengalami banyak tentangan dari orang tua mengingat gaji ayah belum atau tidak naik. Sementara itu di antara Rini dan Rio sendiri ada pertentangan. Rini menekankan supaya kenaikan uang saku hanya untuk mencukupi biaya kebutuhan mereka yang membengkak, tapi tidak untuk membuat pos belanja baru. Sementara Rio berniat membuat pos baru dengan menyusupkan keinginannya untuk memasukkan anggaran pacaran jika uang saku akan dinaikkan.

I La Galigo Robert Wilson dan Taman Mini

Tuesday, January 31st, 2006

Teater Tanah Air, gedung pertunjukan tempat I La Galigo dimainkan, adalah gedung yang berada di tengah komplek monumen yang berkarat. Gedung teater ini terletak di belakang Stasiun Taman Budaya, berhadapan dengan Anjungan Propinsi Bengkulu, bagian dari proyek miniatur Indonesia yang dicanangkan di tahun 1970. Taman Mini adalah Indonesia yang saya kira sudah saya kenali, 20 tahun yang lalu, di kali pertama saya mendatangi tempat itu sebagai seorang bocah berusia tujuh tahun.

Berkunjung ke Kaki Gunung: Sebuah Percakapan dengan Komunitas Tutup Ngisor

Tuesday, January 31st, 2006

Akhir bulan Desember 2002, tepatnya hari Minggu tanggal 28, saya dan beberapa aktor Teater Garasi berkunjung ke dusun Tutup Ngisor di kaki Gunung Merapi. Di dusun yang masuk wilayah Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, terdapat sebuah komunitas seni bernama Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor. Kunjungan ini adalah bagian dari proses penciptaan ‘Waktu Batu’, sebuah repertoar yang saat itu tengah kami persiapkan.

STB: Tonggak Sejarah Teater Klangenan

Thursday, January 12th, 2006

Entah siapa yang mula-mula mengumandangkan bahwa Studiklub Teater Bandung (STB) adalah kelompok teater (modern) tertua di Indonesia. Jika anggapan itu memang penting dalam wacana teater Indonesia, sudah barang tentu diperlukan parameter tersendiri untuk dijadikan ukuran atau patokan: dalam konteks seperti apa STB layak dinilai sebagai kelompok teater tertua di Indonesia.

Sehubungan dengan hal di atas, ada dua sudut pandang yang cukup berhraga untuk dilihat yang ditawarkan dua tokoh sejarawan teater dan budayawan di kota Bandung. Kedua tokoh itu adalah Jakob Sumardjo dan Saini KM.

Panggung Teater Realis Indonesia

Sunday, July 31st, 2005

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Panggung Teater Realis Indonesia pada 26 November hingga 2 Desember 2004 lalu di Graha Bakti Budaya dan Teater kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tujuh grup teater—yang dianggap bisa merepresentasikan “teater-realis di Indonesia—ditampilkan. Studi Klub Teater (STB) Bandung mengusung lakon “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov, Teater Makassar (Makassar) mementaskan “Hantu-Hantu” karya Henrik Ibsen, Teater Gidag Gidig (Solo) memanggungkan “Mainan Kaca” karya Tennesse Williams, Teater Aristokrat (Jakarta) menggelar “Polisi” karya Slawomir Mrozek, Komunitas Satu Kosong Delapan (Bali) memainkan “Matinya Pedagang Keliling” karya Arthur Miller, Teater Gapit (Solo) membesut lakon Dag Dig Dug karya Putu Wijaya, dan Teater Populer mengangkat drama “Pakaian dan Kepalsuan” karya Avarchenko.

Lelaki Besi di Balik Karya Besi; Sebuah Wawancara dengan Lik War, Tukang Las, Temannya Seniman

Sunday, July 31st, 2005

Semula lelaki hitam dengan bekas-bekas luka di tangan ini datang ke Jogja untuk membuka warung pecel lele, tetapi peristiwa-peristiwa telah menggiringnya ke arah lain. Warsito, lelaki itu, kini telah tegak di samping (untuk menghindari kata di belakang) karya-karya beberapa seniman Jogjakarta, khususnya perupa, dan khususnya karya-karya yang menggunakan bahan dasar besi. Nindityo Adipurnomo, Samuel Indratma, Bambang ‘Toko’ Wicaksono, Vensha, Jompet, Moh. Marzuki, Teater Garasi dan beberapa nama lain telah memetik hikmah keahlian lelaki ini dalam mewujudkan ide-ide mereka. Profesinya sebagai tukang las telah membuka jalan hidupnya ke wilayah yang semula hanya disimpan jauh-jauh dalam mimpinya: dunia kesenian.

Melongok “Indonesian Dance Festival” VII

Monday, August 30th, 2004

Pada tanggal 14-17 Juli lalu, di Jakarta diselenggarakan Indonesian Dance Festival (IDF) VII/2004. Acara yang diadakan berkala ini merupakan kerja sama antar lembaga kesenian seperti Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (TIM), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), yang dimotori Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seluruh acara berlangsung di TIM dan GKJ.

Festival bertema “Invisioning the Future” ini diikuti sejumlah koreografer yang terseleksi dan merupakan wakil dari beberapa negara, seperti Taiwan, Jepang, Belanda, Amerika dan Indonesia. Peserta dari Australia urung berpatisipasi karena mengalami cedera tangan.

Min Tanaka: Mengemas Perjalanan Waktu

Monday, August 30th, 2004

Min Tanaka – nama besar dalam tari kontemporer Jepang itu – praktis tidak melakukan apa-apa. Dia hanya beranjak tua. Dalam penampilan kurang-lebih 80 menit yang khidmat di Gedung Kesenian Jakarta, 15 Juli 2004, beberapa ratus penonton menyaksikan dengan diam dan takjub bagaimana seseorang menjadi tua, buyutan dan terpencil di satu sudut dunia. Lelaki berusia 59 tahun itu seperti mengemas perjalanan puluhan tahun ke dalam dirinya, lalu menggelarkan dengan rinci setiap perubahan yang berlangsung pada tubuh, pada seluruh kemanusiaannya.

Pertunjukan bertajuk “In Love with the Locus” itu sudah dimulai selagi cahaya di deret bangku penonton masih menyala. Suara-suara percakapan mendadak tersirap ketika dari bagian belakang panggung yang dibiarkan terbuka – dengan beberapa penonton tercecer di salah satu sudutnya – sang penari diam berdiri mengenakan kimono dan topi di kepalanya, kemudian mulai berjalan tertatih dengan sepatu bot, melintasi panggung. Ia kemudian juga menuruni panggung, berjalan sampai di tengah-tengah penonton dengan gestur lamban yang lambat-laun menegaskan: seorang yang renta tengah berkutat dengan kesendiriannya.