20 May 2012 06:52:05 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Teater dan Waktu

‘Budaya Asli’, Pengaruh Barat, dan Kebudayaan sebuah Negara ‘Modern’: Pertentangan di sekitar Perkembangan Ideologi dan Praksis Seni Teater Nasional Indonesia

Tuesday, January 31st, 2006

Selama Orde Baru, kita menyaksikan sebentuk ketegangan di antara seni teater nasional dan fungsi politis negara. Larangan teater yang memuncak pada tahun 90-an hanya salah satu gejala ketegangan tersebut. Kenapa ketegangan demikian perlu terjadi? Apa artinya? Dan bagaimana kita merumuskannya dalam kerangka budaya nasional? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.

Yang saya maksudkan dengan istilah ‘budaya nasional’ adalah hasil-hasil budaya yang menggunakan bahasa Indonesia (meskipun batasan ini sering tidak berlaku untuk seni lukis, patung, dan sebagainya.), diciptakan dengan niat untuk dijadikan sumbangan pada budaya nasional yang bersifat baru, dan cenderung mencari hubungan dengan arus kesenian internasional yang sedang berkembang. Lebih spesifik lagi, saya ingin memusatkan perhatian pada seni teater nasional. “Seni teater nasional” adalah teater yang mengutamakan bobot unsur “seni-nya” dan bukan hiburan belaka, walaupun unsur hiburan sering, kalau tidak selalu, juga perlu ada.

Wayang Kulit pada Margin Kolonial

Wednesday, July 13th, 2005

Pesona Sang Surya di Ann Arbor

Pukul 8 malam tanggal 1 April 1988 sekelompok hadirin yang terdiri atas 1000 orang lebih duduk di bangsal setengah lingkaran yang adalah Auditorium Rackham di University of Michigan, AS, untuk menonton/mendengarkan The Marriage of Arjuna, suatu lakon wayang kulit Jawa yang dipergelarkan oleh dalang tamu Widyanto S. Putro, kelompok karawitan Jawa universitas itu, dan ’seniman tamu’ Minarno, Sumarsam, R. Anderson Sutton, dan Richard Wallis.1 Di buku acara semua nama itu terdaftar, dengan kelompok karawitan Jawa menjadi yang paling ditonjolkan. Judul lakon itu dalam versi Jawa, yaitu Arjuna Wiwaha, tidak tertulis di buku acara, meski banyak bagian teks diucap atau dinyanyikan dalam bahasa Jawa.

Pergelaran Pasca-Orde Baru

Friday, April 23rd, 2004

Esai ini diilhami serangkaian interupsi. Ketika saya sedang bekerja menyiapkan disertasi saya, mengamati teater kontemporer di Indonesia pasca-Orde Baru, riset saya selalu saja – dan secara fantastis – terpenggal-penggal oleh kampanye atau unjukrasa besar-besaran yang berlangsung di seputaran Jakarta. Untungnya semakin saya perhatikan, demo-demo itu jadi lebih menarik daripada pergelaran teater yang ‘mestinya’ saya tonton.