7 February 2012 12:54:16 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Teater dan Tubuh

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Thursday, September 16th, 2010

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Jelajah Teoretis: Tubuh Tertulis, Menulis Tentang Tubuh dalam Kajian Tari

Monday, August 9th, 2010

Ada ucapan menarik dari beberapa penari dan koreografer Indonesia tentang konsepsi tubuh yang menari (dancing body) yang secara tidak langsung mengungkapkan kaitan konsepsi tubuh dengan identitas kultural.
Ketika saya membantu mengedit tulisan di buku program pementasan Calon Arang, kolaborasi antara Retno Maruti dan Bulantrisna Jelantik, Bulantrisna berpesan agar saya jangan lupa menyebut Biang Sengog sebagai guru beliau.

Tubuh Drag-Queen: Medan Pergelaran Jender yang Tanpa Cela(h)

Friday, July 16th, 2010

Pertunjukan drag-queen terlihat sebagai tontonan yang semakin kentara di ruang publik. Jika beberapa tahun berselang, pementasan yang menampilkan seseorang, kebanyakan lelaki, dalam tampilan lawan-jendernya ini masih menjadi tontonan kalangan terbatas, seperti di bar/ klab malam, pesta atau kumpul-kumpul antar komunitas gay sendiri kini drag-queen semakin sering ditanggap sebagai pengisi hiburan dalam perhelatan perkawinan, arisan dan beragam acara publik di beberapa kota besar di Indonesia.

Membaca Hanuman, Manusia, dan Homo Erectus

Sunday, July 31st, 2005

Dari cerita-cerita yang saya dengar, saya berusaha mereka-reka keadaan yang melingkupi pelemparan telur busuk pada pertunjukan di Solo pada tanggal 8 April 1971. Upaya mereka-reka ini juga saya lakukan untuk melihat peta yang melingkupi seri Ketchak Rina (1973), Dongeng dari Dirah (1974), juga pada seri pertunjukan dengan kesadaran ekologi seperti Meta Ekologi ( 1979) atau Hutan Plastik (1983).

Beberapa pertanyaan bermunculan, terutama karena keterbatasan data. Mengenai episode pelemparan di Solo, apakah kondisi itu disebabkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan Sardono pada konvensi tari Jawa yang sedemikian ekstrim atau lebih disebabkan konteks spasial publiknya? Mengenai episode ketchak dan Bali, apakah siasat kebudayaan yang sedang dipraktikkan Sardono dan bagaimana sesungguhnya prosedur penciptaan yang diusungnya? Mengenai episode seri ekologi, bagaimanakah posisi tematik ini dalam peta global pasar wacana?

“Fashion Show”dan Seni Pertunjukan

Tuesday, July 12th, 2005

Dalam beberapa tahun terakhir ada perkembangan menarik di atas catwalk. Pagelaran busana tidak lagi membosankan. Tidak cuma catwalk putih lurus yang di atasnya para model berjalan lempang, lalu berpose satu-dua detik di ujungnya untuk memberi kesempatan kepada fotografer mengambil gambar terbaik.

Fashion show sudah menjadi pertunjukan menarik di mana para model ada yang menari, jumpalitan seperti pemain sirkus, atau membaca puisi. Bahkan ada sebagian desainer yang menjadikan catwalk sebagai panggung teater. Yang lebih progresif menjadikan fashion show sebagai sebuah pertunjukan seni.

Tentang Akting dan Bukan Akting

Sunday, August 29th, 2004

Akting adalah berpura-pura, menirukan, merepresentasikan, memerankan. Seperti tampak jelas dalam Happening, tidak seluruh penggelaran (performing) adalah akting (acting). Meski akting kadang digunakan, pelaku dalam Happening umumnya cenderung tidak ‘menjadi’ siapa pun selain dirinya sendiri; juga, dia tidak merepresentasikan atau berpura-pura sedang berada pada waktu atau tempat yang berbeda dengan penonton. Mereka berjalan, berlari, berkata-kata, bernyanyi, mencuci piring, menyapu, menjalankan mesin dan peralatan pentas dan seterusnya, tetapi ketika melakukannya mereka tidak sedang menirukan atau memerankan orang lain.