7 February 2012 12:57:37 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Teater dan Manajemen

Percakapan antara Pasar Sub-Budaya ‘Underground’ dan Daya Tahan Gagasan

Tuesday, January 31st, 2006

Tulisan berikut berangkat dari fenomena sub-budaya “underground” sebagai budaya anak muda di Indonesia sepuluh tahun terakhir ini. Suatu sub-budaya yang mendasarkan diri pada kemandirian (dengan satu term populernya: DYI atau do it yourself) dalam pengertian yang mendasar, menyangkut posisi politik individu atau kelompok menghadapi gelombang ideologi politik dan pasar global. Harus dicatat, bahwa pengertian yang baru saja dipaparkan di sini adalah sebuah generalisasi yang perwujudannya bisa sangat beragam. Dalam praktik, definisi “undergorund”, karena keragaman para pemainnya, tidak pernah tunggal dan kerap menimbulkan pertentangan. Penyimpulan di atas saya lakukan lebih untuk menunjuk aras identitas yang dipantulkannya ke depan publik.

Teater, Sabun, dan Celana Usmar

Saturday, January 14th, 2006

Teater Indonesia memang penuh pengorbanan. Itu sudah terjadi sejak zaman Jepang, atau jauh sebelumnya. Bahkan sebelum sinetron dan film bioskop mendominasi dunia peran. Sebelum orang punya banyak pilihan untuk menghibur diri. Dari cuplikan artikel majalah Tempo, 12 Agustus 1972, kita bisa membandingkan kondisi teater saat ini dengan 60 tahun lampau, yang ternyata tak jauh berbeda. “Buaja-buaja panggung pernah tidak beruntung dalam dua hal. Rezekinja sangat suram. Di tahun 1943 perkumpulan sandiwara amatir jang disebut Maya, sampai-sampai mendjual tjelana almarhum Usmar Ismail untuk membiajai pementasan “Taufan di atas Asia” karangan El Hakim alias Dr. Abu Hanifah.

Teater Tak Mungkin Mandiri (?)

Tuesday, January 10th, 2006

Ringkasan Diskusi “Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi”

Sewindu Teater Gardanalla – Yogyakarta, 19 Desember 2005

Tanggal 15 Desember 2005 yang lalu, Teater Gardanalla yang berbasis di Yogyakarta memasuki usia sewindu. Untuk menandainya Gardanalla menyusun serangkaian acara pada tanggal 14 s.d 19 Desember 2005 yang terdiri dari Dramatic Reading on Spot di Radio Geronimo FM (14 s.d 19 Desember); Penerbitan Buku Ayahku Stroke Tapi Nggak Mati, 3 Naskah Drama Teater Gardanalla 2003-2005; Pementasan Drama Tingkat Akhir Bukunya Bergerak-Gerak (16 s.d 17 Desember); dan Diskusi Terbatas dengan tema Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi (19 Desember).

Membaca Taktik: Catatan dari Festival A la Carte, JakArt@2004

Monday, August 30th, 2004

Ary Sutedja, sekretaris umum festival, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa kelompok penggagas JakArt ini adalah sekelompok seniman dan bukan kelompok atau institusi event-organizer. Melalui pernyataan ini saya kemudian melihat bahwa festival ini (disadari atau tidak) adalah sebentuk representasi dari upaya seniman dalam membangun relasinya dengan berbagai peran di wilayah jelajah medan kreatifnya (negara, masyarakat penonton, seniman lain). Sebagai representasi, siapa (yang terlibat), apa, dan bagaimana JakArt tentu saja tidak dimaksudkan sebagai generalisasi atas seluruh seniman di Indonesia. Demikian juga halnya dengan narasi-narasi yang tercipta di dalamnya. Tetap saja narasi-narasi itu merupakan peristiwa-peristiwa spesifik dalam festival keliling JakArt@2004 yang baru lalu.

Kedai Kebun; Kisah Tentang Ruang dan Interaksi

Monday, August 30th, 2004

Ruang sebagai salah satu elemen kesenian, dalam praktiknya selama ini, seringkali melulu dikaitkan dengan keberadaannya yang bersifat fisik dan material (place), bukan pada konsep ruang yang mewadahi imajinasi dan atmosfer tertentu yang terkonstruksi di dalamnya (space). Sempitnya batasan atau pengertian yang semacam itu, memberikan implikasi bagi interaksi yang terjadi dalam sebuah ruang pertunjukan, baik antara seniman dengan ruangnya, audiens dengan ruangnya, atau antara seniman dengan audiensnya.