7 February 2012 12:55:40 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Teater dan Bahasa

Eksperimen bahasa dalam komik DagingTumbuh. Cobalah antri membeli tiket dan lihat keanehan didalam.

Friday, July 28th, 2006

Apakah dagingtumbuh atau the dagingtumbuh itu? Daging yang tumbuh di dataran kulit tubuh. Tampak menonjol. Mungkin juga terasa mengganggu bagi yang memiliki daging tumbuh, atau bagi yang melihatnya. Sejenis tumor yang berpotensi jadi kanker. Dalam kamus bahasa, dagingtumbuh bisa berarti kompilasi komik eksprimental, kata Eko Nugroho.

Tetapi baiklah, berikut ini adalah deskripsi Eko Nugroho sendiri tentang dagingtumbuh.

Nama Saya Hartati Asterix

Wednesday, July 26th, 2006

Dengan kekayaan karakter-karakter, humor-humor yang cerdas, kebebasan repetisi adegan-adegan untuk kekhasan efek komik; seperti pesta di halaman terakhir dan bajak laut yang selalu karam, juga peristiwa-peristiwa di setiap seri dengan sangat orisinil nakalnya (meskipun kadang sangat chauvinistik-Prancis), ditambah kepandaian penggunaan balon kata, drawing yang sangat bersih tanpa tersendat, Asterix telah mengambil hati pembacanya di seluruh dunia.

Bukan Sekadar Praktik Pelisanan Bahasa

Thursday, July 20th, 2006

Teater sebagai seni pertunjukan sering menempatkan bahasa sebagai salah satu potensi ekspresinya. Berkait dengan itu, kehadiran dan keberadaan aktor menjadi penting ketika ia harus mengartikulasikan bahasa itu. Dalam praktik teater yang menempatkan bahasa sebagai potensi ekspresi ini (drama monolog, ensemble [ansambel], pembacaan cerpen dll) seorang aktor dipaksa menyusun strategi untuk bekerja-sama dengan bahasa yang hendak dipraktikan pelisanannya dalam teater yang hendak diwujudkan.

Kami mencoba mengulik perihal itu pada Landung Simatupang (LS): seorang sutradara, aktor, dan juga penyair.

Kewajiban Menerjemah; Wawancara dengan Antoine Vitez

Saturday, July 1st, 2006

Saya tidak suka orang mengatakan pada saya bahwa saya tidak akan dapat mengerti apapun tentang orang lain atau tak sesuatupun tentang diri saya dapat dipahami orang lain. Saya sangat tidak senang kalau perbedaan dijadikan tak terkikis seperti itu. Haruskah saya tidak mengerti apa-apa tentang perempuan karena saya laki-laki, atau tentang orang Afrika karena saya orang Eropa? Ini membuat saya gila dalam arti kata sebenarnya. Andai saya harus sungguh-sungguh berpikir seperti itu, saya tidak akan bisa bertahan hidup. Makna eksistensi saya berpangkal pada kemungkinan menerjemah. Barangkali karena itu pekerjaan saya.

Apakah Bahasa Indonesia Seksis?

Saturday, July 1st, 2006

Kalau kita perhatikan beberapa trend dalam penggunaan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, timbul kesan bahwa bahasa Indonesia mempunyai persoalan dengan gender. Berbagai istilah “khusus perempuan” bermunculan, misalnya istilah sejenis “perempuan pengarang” atau kata-kata dengan akhiran “-wati”; saya bahkan pernah mendengar pengumuman dari loudspeaker sebuah masjid dekat rumah saya yang mengajak para “santri dan santriwati” untuk menghadiri sebuah pengajian. Fenomena apakah ini? Secara sekilas, euforia pembentukan berbagai istilah baru untuk merujuk pada perempuan dalam berbagai profesi dan kegiatan ini mirip dengan politik bahasa yang dilakukan para feminis di negara-negara Barat. Apakah bahasa Indonesia bersifat seksis sehingga berbagai perubahan untuk menghilangkan bias gender perlu diadakan? Dan apakah kecenderungan baru ini memang berhasil menghapus atau melawan seksisme?

Ikhwal Kelisanan di Atas Panggung

Saturday, July 1st, 2006

Dari manakah kecintaan kita pada realisme tumbuh?

Dari nun di masa kecil kita.

Begitulah, dalam buku terbarunya Realist Vision (2005) Peter Brooks memberi uraian yang menarik tentang realisme. Kesenangan pada realisme, katanya, sudah muncul sejak manusia masih kecil sebagaimana kesenangan yang didapat saat bermain dengan boneka. Dunia boneka adalah model skala (scale model) dari dunia nyata. Ia hasil reproduksi secara miniatur objek(-objek) di dalam dunia nyata. Dengan kata lain, ia sebuah tiruan dunia di luar kita. Lantas, kenapa kita bisa senang? Sebab dalam permainan boneka kita mendapat cara untuk menjinakan atau mengorganisasikan kompleks dan energi yang melimpah dalam dunia kita. Singkat kata, dunia bisa diatur.

Emansipasi Teks lewat Tubuh

Saturday, July 1st, 2006

Akhir-akhir ini semakin banyak acara baca puisi, baca cerpen, bahkan sampai dengan baca novel. Acara ini bukan hanya dilakukan oleh kalangan mahasiswa sastra melainkan juga sudah merambah sampai kalangan para artis sinetron. Salah satu acara yang mengesan sampai sekarang (paling tidak karena saya masih punya kaosnya) adalah baca karya-karya almarhum Umar Khayam oleh Landung Simatupang. Sejak itu (tidak musti karena itu) acara-acara serupa bermunculan. Saya tidak tahu, itu hanya ikut-ikutan atau memang menjadi acara yang bisa meresapkan apa yang sedang dibaca.

Butet Kertaredjasa

Monday, January 23rd, 2006

“Ketika saya bermain dalam kaidah seni pertunjukanku, kuwi tak golek-goleki. Tak eker-eker. Biasane nemu.”

Itulah salah satu pengakuan Butet, aktor, praktisi menejemen seni pertunjukan yang mumpuni, direktur Padepokan Latihan Tari Bagong Kussudiardjo yang lebih sering memilih predikat penjaja jasa akting setiap kali ditanya tentang identitas dirinya. Entah apa yang tertulis di KTPnya. Siang itu kami ngobrol di teras rumahnya, di dusun Kembaran Tirtonirmolo Bantul untuk mengulik tradisi keaktorannya yang tak mungkin mengelak dari praktik pelisanan bahasa verbal.

Performance & Performative

Thursday, April 8th, 2004

Hujan deras. Truk yang akan membawa para pengungsi itu kembali ke Afghanistan telah menunggu. Setelah membantu memakaikan sepatunya yang terlepas di tanah yang becek, pemuda itu memandang lekat-lekat gadis di hadapannya, memanfaatkan menit terakhir kebersamaan mereka. Gadis itu balas menatap, dan sedetik kemudian, tanpa melepaskan pandangan, dengan sebuah sentakan yang halus ia membalik kerudung burkanya yang sebelumnya tersibak ke belakang, menutupi seluruh wajah kecuali sepasang matanya yang masih juga menatap pemuda itu dengan pancaran tak tergambarkan. Setelah itu, ia berpaling dan masuk ke dalam truk yang kemudian membawanya pergi pulang.