20 May 2012 06:33:19 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest News

Archives

Links

Diterbitkan oleh

Didukung oleh

Issue

‘Budaya Asli’, Pengaruh Barat, dan Kebudayaan sebuah Negara ‘Modern’: Pertentangan di sekitar Perkembangan Ideologi dan Praksis Seni Teater Nasional Indonesia

Tuesday, January 31st, 2006

Selama Orde Baru, kita menyaksikan sebentuk ketegangan di antara seni teater nasional dan fungsi politis negara. Larangan teater yang memuncak pada tahun 90-an hanya salah satu gejala ketegangan tersebut. Kenapa ketegangan demikian perlu terjadi? Apa artinya? Dan bagaimana kita merumuskannya dalam kerangka budaya nasional? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.

Yang saya maksudkan dengan istilah ‘budaya nasional’ adalah hasil-hasil budaya yang menggunakan bahasa Indonesia (meskipun batasan ini sering tidak berlaku untuk seni lukis, patung, dan sebagainya.), diciptakan dengan niat untuk dijadikan sumbangan pada budaya nasional yang bersifat baru, dan cenderung mencari hubungan dengan arus kesenian internasional yang sedang berkembang. Lebih spesifik lagi, saya ingin memusatkan perhatian pada seni teater nasional. “Seni teater nasional” adalah teater yang mengutamakan bobot unsur “seni-nya” dan bukan hiburan belaka, walaupun unsur hiburan sering, kalau tidak selalu, juga perlu ada.

Percakapan antara Pasar Sub-Budaya ‘Underground’ dan Daya Tahan Gagasan

Tuesday, January 31st, 2006

Tulisan berikut berangkat dari fenomena sub-budaya “underground” sebagai budaya anak muda di Indonesia sepuluh tahun terakhir ini. Suatu sub-budaya yang mendasarkan diri pada kemandirian (dengan satu term populernya: DYI atau do it yourself) dalam pengertian yang mendasar, menyangkut posisi politik individu atau kelompok menghadapi gelombang ideologi politik dan pasar global. Harus dicatat, bahwa pengertian yang baru saja dipaparkan di sini adalah sebuah generalisasi yang perwujudannya bisa sangat beragam. Dalam praktik, definisi “undergorund”, karena keragaman para pemainnya, tidak pernah tunggal dan kerap menimbulkan pertentangan. Penyimpulan di atas saya lakukan lebih untuk menunjuk aras identitas yang dipantulkannya ke depan publik.

Butet Kertaredjasa

Monday, January 23rd, 2006

“Ketika saya bermain dalam kaidah seni pertunjukanku, kuwi tak golek-goleki. Tak eker-eker. Biasane nemu.”

Itulah salah satu pengakuan Butet, aktor, praktisi menejemen seni pertunjukan yang mumpuni, direktur Padepokan Latihan Tari Bagong Kussudiardjo yang lebih sering memilih predikat penjaja jasa akting setiap kali ditanya tentang identitas dirinya. Entah apa yang tertulis di KTPnya. Siang itu kami ngobrol di teras rumahnya, di dusun Kembaran Tirtonirmolo Bantul untuk mengulik tradisi keaktorannya yang tak mungkin mengelak dari praktik pelisanan bahasa verbal.

Teater, Sabun, dan Celana Usmar

Saturday, January 14th, 2006

Teater Indonesia memang penuh pengorbanan. Itu sudah terjadi sejak zaman Jepang, atau jauh sebelumnya. Bahkan sebelum sinetron dan film bioskop mendominasi dunia peran. Sebelum orang punya banyak pilihan untuk menghibur diri. Dari cuplikan artikel majalah Tempo, 12 Agustus 1972, kita bisa membandingkan kondisi teater saat ini dengan 60 tahun lampau, yang ternyata tak jauh berbeda. “Buaja-buaja panggung pernah tidak beruntung dalam dua hal. Rezekinja sangat suram. Di tahun 1943 perkumpulan sandiwara amatir jang disebut Maya, sampai-sampai mendjual tjelana almarhum Usmar Ismail untuk membiajai pementasan “Taufan di atas Asia” karangan El Hakim alias Dr. Abu Hanifah.

Teater Tak Mungkin Mandiri (?)

Tuesday, January 10th, 2006

Ringkasan Diskusi “Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi”

Sewindu Teater Gardanalla – Yogyakarta, 19 Desember 2005

Tanggal 15 Desember 2005 yang lalu, Teater Gardanalla yang berbasis di Yogyakarta memasuki usia sewindu. Untuk menandainya Gardanalla menyusun serangkaian acara pada tanggal 14 s.d 19 Desember 2005 yang terdiri dari Dramatic Reading on Spot di Radio Geronimo FM (14 s.d 19 Desember); Penerbitan Buku Ayahku Stroke Tapi Nggak Mati, 3 Naskah Drama Teater Gardanalla 2003-2005; Pementasan Drama Tingkat Akhir Bukunya Bergerak-Gerak (16 s.d 17 Desember); dan Diskusi Terbatas dengan tema Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi (19 Desember).

Membaca Hanuman, Manusia, dan Homo Erectus

Sunday, July 31st, 2005

Dari cerita-cerita yang saya dengar, saya berusaha mereka-reka keadaan yang melingkupi pelemparan telur busuk pada pertunjukan di Solo pada tanggal 8 April 1971. Upaya mereka-reka ini juga saya lakukan untuk melihat peta yang melingkupi seri Ketchak Rina (1973), Dongeng dari Dirah (1974), juga pada seri pertunjukan dengan kesadaran ekologi seperti Meta Ekologi ( 1979) atau Hutan Plastik (1983).

Beberapa pertanyaan bermunculan, terutama karena keterbatasan data. Mengenai episode pelemparan di Solo, apakah kondisi itu disebabkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan Sardono pada konvensi tari Jawa yang sedemikian ekstrim atau lebih disebabkan konteks spasial publiknya? Mengenai episode ketchak dan Bali, apakah siasat kebudayaan yang sedang dipraktikkan Sardono dan bagaimana sesungguhnya prosedur penciptaan yang diusungnya? Mengenai episode seri ekologi, bagaimanakah posisi tematik ini dalam peta global pasar wacana?

Belajar Berenang Menghulu di Sungai: Pengalaman Bersama Mas Roedjito

Sunday, July 31st, 2005

Selama penelitian saya mengenai teater modern di Jakarta yang berlangsung selama lebih dari dua tahun (1989-1991) saya sering bertemu Roedjito di rumahnya untuk bicara berdua tentang banyak hal. Pembicaraan itu, yang kadang-kadang bisa sampai beberapa jam, tidak bersifat pertukaran informasi atau fakta-fakta teater demi penelitian saya, melainkan lebih mengudap rasa terhadap persoalan dan makna hidup. Saya mendapatkan banyak dari Roedjito, dan dia (secara langsung maupun tidak langsung) ikut mempengaruhi dan membentuk disertasi saya dan lebih luas lagi cara berfikir dan pandangan hidup saya seterusnya. Tulisan saya ini mengandung berbagai pikiran dan pengalaman saya bersama Roedjito.

Wayang Kulit pada Margin Kolonial

Wednesday, July 13th, 2005

Pesona Sang Surya di Ann Arbor

Pukul 8 malam tanggal 1 April 1988 sekelompok hadirin yang terdiri atas 1000 orang lebih duduk di bangsal setengah lingkaran yang adalah Auditorium Rackham di University of Michigan, AS, untuk menonton/mendengarkan The Marriage of Arjuna, suatu lakon wayang kulit Jawa yang dipergelarkan oleh dalang tamu Widyanto S. Putro, kelompok karawitan Jawa universitas itu, dan ’seniman tamu’ Minarno, Sumarsam, R. Anderson Sutton, dan Richard Wallis.1 Di buku acara semua nama itu terdaftar, dengan kelompok karawitan Jawa menjadi yang paling ditonjolkan. Judul lakon itu dalam versi Jawa, yaitu Arjuna Wiwaha, tidak tertulis di buku acara, meski banyak bagian teks diucap atau dinyanyikan dalam bahasa Jawa.

“Fashion Show”dan Seni Pertunjukan

Tuesday, July 12th, 2005

Dalam beberapa tahun terakhir ada perkembangan menarik di atas catwalk. Pagelaran busana tidak lagi membosankan. Tidak cuma catwalk putih lurus yang di atasnya para model berjalan lempang, lalu berpose satu-dua detik di ujungnya untuk memberi kesempatan kepada fotografer mengambil gambar terbaik.

Fashion show sudah menjadi pertunjukan menarik di mana para model ada yang menari, jumpalitan seperti pemain sirkus, atau membaca puisi. Bahkan ada sebagian desainer yang menjadikan catwalk sebagai panggung teater. Yang lebih progresif menjadikan fashion show sebagai sebuah pertunjukan seni.

Membaca Taktik: Catatan dari Festival A la Carte, JakArt@2004

Monday, August 30th, 2004

Ary Sutedja, sekretaris umum festival, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa kelompok penggagas JakArt ini adalah sekelompok seniman dan bukan kelompok atau institusi event-organizer. Melalui pernyataan ini saya kemudian melihat bahwa festival ini (disadari atau tidak) adalah sebentuk representasi dari upaya seniman dalam membangun relasinya dengan berbagai peran di wilayah jelajah medan kreatifnya (negara, masyarakat penonton, seniman lain). Sebagai representasi, siapa (yang terlibat), apa, dan bagaimana JakArt tentu saja tidak dimaksudkan sebagai generalisasi atas seluruh seniman di Indonesia. Demikian juga halnya dengan narasi-narasi yang tercipta di dalamnya. Tetap saja narasi-narasi itu merupakan peristiwa-peristiwa spesifik dalam festival keliling JakArt@2004 yang baru lalu.