Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).
Latest News
Archives
Links
Diterbitkan oleh
Didukung oleh
Issue
Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla
Thursday, September 16th, 2010Jelajah Teoretis: Tubuh Tertulis, Menulis Tentang Tubuh dalam Kajian Tari
Monday, August 9th, 2010Ada ucapan menarik dari beberapa penari dan koreografer Indonesia tentang konsepsi tubuh yang menari (dancing body) yang secara tidak langsung mengungkapkan kaitan konsepsi tubuh dengan identitas kultural.
Ketika saya membantu mengedit tulisan di buku program pementasan Calon Arang, kolaborasi antara Retno Maruti dan Bulantrisna Jelantik, Bulantrisna berpesan agar saya jangan lupa menyebut Biang Sengog sebagai guru beliau.
Tubuh Drag-Queen: Medan Pergelaran Jender yang Tanpa Cela(h)
Friday, July 16th, 2010Pertunjukan drag-queen terlihat sebagai tontonan yang semakin kentara di ruang publik. Jika beberapa tahun berselang, pementasan yang menampilkan seseorang, kebanyakan lelaki, dalam tampilan lawan-jendernya ini masih menjadi tontonan kalangan terbatas, seperti di bar/ klab malam, pesta atau kumpul-kumpul antar komunitas gay sendiri kini drag-queen semakin sering ditanggap sebagai pengisi hiburan dalam perhelatan perkawinan, arisan dan beragam acara publik di beberapa kota besar di Indonesia.
Eksperimen bahasa dalam komik DagingTumbuh. Cobalah antri membeli tiket dan lihat keanehan didalam.
Friday, July 28th, 2006Apakah dagingtumbuh atau the dagingtumbuh itu? Daging yang tumbuh di dataran kulit tubuh. Tampak menonjol. Mungkin juga terasa mengganggu bagi yang memiliki daging tumbuh, atau bagi yang melihatnya. Sejenis tumor yang berpotensi jadi kanker. Dalam kamus bahasa, dagingtumbuh bisa berarti kompilasi komik eksprimental, kata Eko Nugroho.
Tetapi baiklah, berikut ini adalah deskripsi Eko Nugroho sendiri tentang dagingtumbuh.
Nama Saya Hartati Asterix
Wednesday, July 26th, 2006Dengan kekayaan karakter-karakter, humor-humor yang cerdas, kebebasan repetisi adegan-adegan untuk kekhasan efek komik; seperti pesta di halaman terakhir dan bajak laut yang selalu karam, juga peristiwa-peristiwa di setiap seri dengan sangat orisinil nakalnya (meskipun kadang sangat chauvinistik-Prancis), ditambah kepandaian penggunaan balon kata, drawing yang sangat bersih tanpa tersendat, Asterix telah mengambil hati pembacanya di seluruh dunia.
Bukan Sekadar Praktik Pelisanan Bahasa
Thursday, July 20th, 2006Teater sebagai seni pertunjukan sering menempatkan bahasa sebagai salah satu potensi ekspresinya. Berkait dengan itu, kehadiran dan keberadaan aktor menjadi penting ketika ia harus mengartikulasikan bahasa itu. Dalam praktik teater yang menempatkan bahasa sebagai potensi ekspresi ini (drama monolog, ensemble [ansambel], pembacaan cerpen dll) seorang aktor dipaksa menyusun strategi untuk bekerja-sama dengan bahasa yang hendak dipraktikan pelisanannya dalam teater yang hendak diwujudkan.
Kami mencoba mengulik perihal itu pada Landung Simatupang (LS): seorang sutradara, aktor, dan juga penyair.
Kewajiban Menerjemah; Wawancara dengan Antoine Vitez
Saturday, July 1st, 2006Saya tidak suka orang mengatakan pada saya bahwa saya tidak akan dapat mengerti apapun tentang orang lain atau tak sesuatupun tentang diri saya dapat dipahami orang lain. Saya sangat tidak senang kalau perbedaan dijadikan tak terkikis seperti itu. Haruskah saya tidak mengerti apa-apa tentang perempuan karena saya laki-laki, atau tentang orang Afrika karena saya orang Eropa? Ini membuat saya gila dalam arti kata sebenarnya. Andai saya harus sungguh-sungguh berpikir seperti itu, saya tidak akan bisa bertahan hidup. Makna eksistensi saya berpangkal pada kemungkinan menerjemah. Barangkali karena itu pekerjaan saya.
Apakah Bahasa Indonesia Seksis?
Saturday, July 1st, 2006Kalau kita perhatikan beberapa trend dalam penggunaan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, timbul kesan bahwa bahasa Indonesia mempunyai persoalan dengan gender. Berbagai istilah “khusus perempuan” bermunculan, misalnya istilah sejenis “perempuan pengarang” atau kata-kata dengan akhiran “-wati”; saya bahkan pernah mendengar pengumuman dari loudspeaker sebuah masjid dekat rumah saya yang mengajak para “santri dan santriwati” untuk menghadiri sebuah pengajian. Fenomena apakah ini? Secara sekilas, euforia pembentukan berbagai istilah baru untuk merujuk pada perempuan dalam berbagai profesi dan kegiatan ini mirip dengan politik bahasa yang dilakukan para feminis di negara-negara Barat. Apakah bahasa Indonesia bersifat seksis sehingga berbagai perubahan untuk menghilangkan bias gender perlu diadakan? Dan apakah kecenderungan baru ini memang berhasil menghapus atau melawan seksisme?
Ikhwal Kelisanan di Atas Panggung
Saturday, July 1st, 2006Dari manakah kecintaan kita pada realisme tumbuh?
Dari nun di masa kecil kita.
Begitulah, dalam buku terbarunya Realist Vision (2005) Peter Brooks memberi uraian yang menarik tentang realisme. Kesenangan pada realisme, katanya, sudah muncul sejak manusia masih kecil sebagaimana kesenangan yang didapat saat bermain dengan boneka. Dunia boneka adalah model skala (scale model) dari dunia nyata. Ia hasil reproduksi secara miniatur objek(-objek) di dalam dunia nyata. Dengan kata lain, ia sebuah tiruan dunia di luar kita. Lantas, kenapa kita bisa senang? Sebab dalam permainan boneka kita mendapat cara untuk menjinakan atau mengorganisasikan kompleks dan energi yang melimpah dalam dunia kita. Singkat kata, dunia bisa diatur.
Emansipasi Teks lewat Tubuh
Saturday, July 1st, 2006Akhir-akhir ini semakin banyak acara baca puisi, baca cerpen, bahkan sampai dengan baca novel. Acara ini bukan hanya dilakukan oleh kalangan mahasiswa sastra melainkan juga sudah merambah sampai kalangan para artis sinetron. Salah satu acara yang mengesan sampai sekarang (paling tidak karena saya masih punya kaosnya) adalah baca karya-karya almarhum Umar Khayam oleh Landung Simatupang. Sejak itu (tidak musti karena itu) acara-acara serupa bermunculan. Saya tidak tahu, itu hanya ikut-ikutan atau memang menjadi acara yang bisa meresapkan apa yang sedang dibaca.

