20 May 2012 06:46:55 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

About

Website di depan Anda ini adalah bagian dari upaya untuk melanjutkan dan mengembangkan kajian teater dan/atau seni pertunjukan yang sebelumnya telah dilakukan oleh media cetak “Lèbur – Performance.Theater.Arts” sejak tahun 2003. Perubahan format Lèbur, dari cetak ke on-line, merupakan upaya memperluas akses atas (hasil) kajian tersebut.

Dalam mengawali langkah kecil ini, Lèbur Online membagi kerjanya dalam beberapa konsentrasi. Klik Issue untuk menemukan tema-tema dasar kajian Lèbur. Kami telah menempatkan ulang tulisan-tulisan yang pernah dimuat dalam edisi Lèbur cetak ke dalam kerangka tematik dasar yang saling terhubungkan. Klik Review untuk menemukan dokumen kerja-kerja teater di Indonesia, baik dari perspektif pelaku maupun penonton. Klik Portal untuk menemukan koleksi berita-berita teater dan seni pertunjukan di Indonesia. Kritik dan saran silakan kirim ke info@lebur.or.id. Untuk diskusi yang lebih luas kami mengundang anda untuk bergabung dalam forum diskusi Lèbur di diskusilebur@yahoogroups.com. Selamat berselancar!

Leave a Reply