Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).
Karena tiga naskah tersebut saya yang menulisnya, maka beberapa ilustrasi akan dikutipkan atau disarikan dari ketiga naskah tersebut sebagai bagaian dari pikiran saya tentang adegan dan proyeksi pemanggungannya, dimana di dalamnya tubuh pemain sudah mulai dipikirkan dan tentu saja, direpresentasikan secara tulisan.
MASYARAKAT REMAJA
Keluarga yang dilukiskan dalam buku pelajaran sekolah dasar Indonesia selalu terdiri dari sepasang orang tua dan putra-putri mereka. Bila keluarga dan bangsa digambarkan seperti itu, kemana gerangan para remaja? Pertanyaan ini menjadi pembuka tulisan Saya Sasaki Shiraishi (2001) ketika ia mambahas ambivalensi remaja Indonesia.
Bersamaan saat membaca, muncul dalam ingatan saya iklan Majalah HAI (untuk remaja pria) yang mengatakan: HAI, karena kita luar biasa! Atau iklan-ilkan pasta gigi dan biscuit yang memakai model remaja bening. Juga, bukankah ada majalah khusus remaja seperti ANEKA Yess, ANITA Cemerlang, KAWANKU ? Bagaimana dengan sinetron remaja, atau drama remaja? Siapa yang mengkonsumsi lagu Ungu, Nidji, Samsons serta Acha dan Irwansyah, baik dalam CD album atau nada sambung pribadi? Siapa yang berjubel antri tiket bioskop film Rafi Ahmad, Ayushita, Dimas Beck dan Bunga Citra Lestari? Bukankah para remaja? Bagaimana bisa Saya Shiraishi menanyakan dimana gerangan para remaja? Bukankah secara gampang kita bisa menunjuk hal-hal yang berbau remaja di ruang-ruang yang saya sebut tadi? Majalah, iklan, sinetron, film dan lagu?
Berikut saya sadar bahwa ketika Saya Shiraishi menunjuk ketidaberadaan remaja Indonesia, pada saat bersamaan ia sedang menunjukkan keberadaan posisi mereka di tempat lain, atau tepatnya di tempat yang juga muncul bersaamaan di benak kita saat terpancing pertanyaannya tadi. Di sinilah ia memulai cerita ambivalensi remaja yang ditemukan dalam bahasa remaja di sekolah di satu sisi dan dalam lagu-lagu popular di sisi lain. Dimana mereka dianggap hilang, tapi di sini lain mereka dihidupkan dengan modal yang luar biasa eksesif. Mereka tidak di buku bacaan sekolah, tapi di bacaan popular, tontonan popular dan media-media lain yang secara politis sering dipinggirkan dan dianggap komodifikasi alias mesin uang. Remaja dianggap konsumen dan masyarakat remaja dianggap pasar penyerap segala produk yang tersediakan tadi. Dugaan saya sendiri, upaya ini sekaligus menjadi media pembentuk remaja.
Remaja yang dicitrakan dalam media itu adalah remaja yang tersenyum di sampul majalah dengan warna ceria, tanpa keringat dan dasar yang polos. Bisa dibaca: mereka dilepaskan dari konteks sosial dan tanggung jawabnya. Mereka seperti tidak pernah boleh bekerja dan berpikir keras sampai berkeringat. Di dalam media-media itu ada banyak pesan untuk menjadikan mereka “remaja yang baik dan berprestasi” misalnya dengan konsultasi dan anjuran jangan onani, perbanyak olah raga! Album aktivitas bakti sosial dari SMA apa di desa mana dengan refleksi kasihani sesama. Hindari hubungan seks pra nikah! Dapatkan inner beauty! Cintai bapak ibu, adik dan kakak! Isi liburan dengan kegiatan positif! Bla…bla….bla!
Tiga drama remaja Teater Gardanalla diproduksi dalam situasi sosial masyarakat remaja seperti di atas. Bahkan ketika situasi sosial politik berubah tahun 1998, situasi sosial ini tidak banyak berubah. Masyarakat remaja masih menjadi arena tawar-menawar berbagai aturan dan proses ini tidak banyak dilirik, miskin wacana. Ukuran-ukurannya disederhanakan menjadi remaja sehat jika tidak onani, tidak melakukan seks pra nikah! Remaja gaul adalah yang membeli pasta gigi merek XYZ. Yang paling saya suka, remaja harus tegar dan tabah menghadapi jerawat. Rubrik-rubrik konsultasi seks, psikologi, tip pacaran dan kehidupan lainnya pada remaja niscaya menjadi agen pembentuk mereka.
Berikut kutipan sebuah rubrik konsultasi di Majalah HAI 30/XXX1/23 Juli 2007 tentang menjalin hubungan kembali dengan pacar.
Gw mau nanya, sebulan yang lalu gw bru pts ma mantan gw, gak tw kenapa gue merasa gak bsa lupain dia dan dan gw masih syang ma dia. Setelah gw ngajak blikan, dia nolak gw gt. bnyak temen gw blg, dy plg anti blikan ma mantan nya..gmana donk bag? Pdahal gue mas syang ma dia bget. (moses, medan)
Kemudian jawabannya,
Ya, gimana? Kalo memang gitu keputusannya. Lagian kalo balik sama mantan, lo gak bakal tau kalo di dunia ini masih banyak orang yang lebih asik untuk dipacarin. Sama seperti kasus temen lain, ya udah temen aja. Siapa tahu nanti dia khilaf dan setelah melakukan perenungan panjang (siapa tau) dia pengen balik. Tapi lebih baik gak usah naruf harapan macem-macem. Cari cewek lain.
Kita bisa melihat bagaimana penjawab rubrik yang diberi nama Bagman (karena bergambar manusia berkepala tas belanja kerta supermarket) menganjurkan nilai-nilai optimisme, ketabahan, perjuangan tiada henti atas masalah Moses, si penanya. Kita juga bisa melihat bagaimana pertanyaan (yang sepertinya dikirim via sms) itu menggunakan bahasa sms yang menjamur dimana-mana, termasuk di ruang obrolan virtual (chat-room). Dan ruang-ruang seperti itulah tempat bergerak masyarakat remaja di luar sekolah dan keluarga. Teman saya di SMP pernah dipanggil guru karena jawaban ulangannya penuh kata singkatan seperti sdh untuk sudah, prnah untuk pernah dan lainnya. Aturan menulis ulangan tanpa singkatan lalu menjadi yurisprudensi yang direkomendasikan ke semua siswa. Bisa dibayangkan bagaimana nasib teman saya tadi kalau dia menuliskan jawaban ulangannya dengan bahasa yang singkatan seperti yang dipakai Moses. Yo owloh, pasti dy udah dikutuk jd semen!
REAKSI REMAJA PADA ATURAN
Lantas bagaimana remaja bersikap dan berperilaku dalam segala macam aturan dan media pembentuk itu? Kalau memang ada perlawanan, perlawanan macam apa yang mereka lakukan? Atau jenis kompromi sebatas mana? Sejauh mana tubuh mereka terlibat?
Sebuah studi remaja di Amerika memaparkan bagaimana remaja putri berperilaku pada desakan selera yang ada di majalah-majalah. Kosmetik, gaya rambut dan cara dandan memang dimaksudkan untuk mengatur penampilan mereka di luar rumah, saat jalan-jalan atau di lantai dansa. Namun ritual mencoba segala dandanan itu adalah aktivitas rumahan atau dilakukan di rumah teman, bersama-sama di kamar. (Mc Robbie, 1991).
Pola ini sepertinya menemukan gambarannya secara cepat dalam film Ada Apa Dengan Cinta (Rudy Soejarwo, 2002) dimana segala masalah grup para tokohnya, sekumpulan remaja putri, dibicarakan di kamar, saling menguatkan, mendengarkan musik bersama, berjoget dan ketawa-ketiwi. Kamar menjadi ruang penerimaan, ruang uji coba sekaligus perlawanan atas segala aturan (situasi) itu. Lebih jauh hal ini bisa dibaca sebagai upaya bagaimana para remaja melakukan kontekstualisasi dalam kehidupan mereka sebagai pola serap (resepsi) dan reaksi terhadap segala konstruksi atau aturan itu. Kalimat terakhir ini sekaligus sebagai benang merah proyek drama remaja Teater Gardanalla.
Remaja tidak lagi hanya dimaknai sebagai segolongan usia tertentu, namun lebih sebagai sebuah pergerakan sosial yang harus diperhatikan. Reaksi mereka atas aturan yang diwujudkan dalam bentuk tubuh (dan juga bentuk lainnya, kemudian kita kenal sebagai subkultur) menjadi perlawanan yang mereka gunakan untuk memantapkan posisi mereka dalam masyarakat. Karena aturan-aturan itu tidak hanya dikenakan pada batin, jiwa, pikiran namun juga tubuh, maka reaksi yang muncul pun bisa dilihat dari tubuh mereka.
Reaksi ini baik yang dilakukan secara massif ataupun individual selalu terhubung satu dengan yang lainnya, persis sebagaimana konstruksi pada remaja dilakukan juga. Contoh atas hal ini bisa ditemukan pada bagaimana remaja secara tidak langsung meruntuhkan aturan yang selama ini dibebankan dan diwejangkan kepada mereka dengan berbagai cara, lisan maupun tulisan di berbagai rubrik media massa: yakni anjuran untuk tidak berperilaku seks bebas. Secara tidak langsung wejangan ini dipertanyakan ulang oleh keputusan Adi dan Nanda yang mendokumentasikan aktivitas seks mereka tahun 2001. Aktivitas yang tidak sengaja tersebar ini kemudian menjadi semacam ide bagi remaja lain untuk berbuat serupa, dan kali ini lebih cenderung disengaja. Di internet bisa kita temukan berbagai cuplikan video porno dengan judul nama kampus atau kota (bahkan kota kabupaten) tertentu yang diimbuhi kata: membara, panas, kasmaran dll. Kasus ini menjadi ide pementasan seri kedua yakni Ah, Kamu…! (2004) yang bercerita tentang keintiman remaja dan upaya mereka mendokumentasikannya.
Di sisi lain kita bisa melihat sebagian remaja memang dengan mudahnya terkonstruksi oleh media. Bisa dibayangkan remaja membutuhkan sumber-sumber perlawanan atas aturan-aturan yang lebih dulu diwujudkan oleh generasi sebelumnya, baik keluarga maupun sekolah. Dengan begitu media yang mereka konsumsi sehari-hari adalah rujukan terdekat yang bisa mereka raih. Remaja di TV dan majalah menjadi model bagi remaja lain bagaimana harus berperilaku.
Jika model video seks bebas tadi ingin menunjukkan identitas mereka yang beda, golongan semacam ini bisa jadi ingin menunjukkan bahwa mereka bisa mengikuti standard yang dimunculkan TV dan majalah. Meski untuk itu mereka harus ikut berteriak: Be yourself! Dengan suara, baju dan tujuan yang nyaris tak beridentitas.
Dalam drama remaja Gardanalla, contoh paling jelas untuk menggambarkan perbandingan dua perlawanan remaja ini ada dalam Jalur 17 dengan tema uang saku, sebagai wilayah operasi orang tua melakukan kontrol atas remaja sekaligus perlawanan mereka. Di sana sekaligus nampak logika konsumsi dan produksi para remaja.
Remaja mandiri diwakili oleh Penyo, lulusan STM yang jadi kenek. Remaja yang masih bergantung pada orang tua diwakili Rini dan Rio, kakak beradik yang sedang kebingungan menambah uang saku.
Penyo : Nggak enak ya! Kaya cah cilik!
Rini : Cah cilik?
Penyo : Anak kecil. Masih diatur-atur orang tua.
Rio : Kamu memang nggak?
Penyo : Sudah besar! Kalau kamu sudah kerja ya berarti kamu sudah besar. Bisa lepas dari orang tua.
Rio : Memamg umur kamu berapa?
Penyo : 19. Baru lulus STM tahun lalu.
Rio : Hampir sama, nggak beda jauh! Kok kamu bilang sudah besar?
Penyo : Masih bayi, kalau sudah bisa kerja ya sudah besar namanya. Sudah punya uang sendiri. Mau beli apa saja semau kita. Sakepengene! Orang tua tidak bisa melarang!
Pertunjukan Jalur 17 dipentaskan di atas ruang publik atau tepatnya transportasi publik meski dengan audiens yang terpola. Hampir sepanjang permainan para aktor berada di atas bus kota yang melaju. Obrolan mereka tadi, lengkap dengan ideologinya masing-masing membawa konsekuensi pada bagaimana mereka bertingkah dalam pementasan. Penyo, seperti remaja lain yang membuat video porno dan menyebarkannya, cenderung lebih berani dan mantap menampilkan dirinya sendiri. Dia ringan berteriak-teriak di jalan (selain karena memang ia kenek). Ia juga sangat santai bicara dengan rekan kerjanya yang jauh lebih tua karena dia memang merasa sudah besar. Sementara Rini dan Rio, masih selalu ragu-ragu, bahkan untuk menampilkan diri mereka sendiri. Hal semacam ini akan kita lihat di bagian berikutnya.
MEMPERTONTONKAN TUBUH YANG DIATUR
Gardanalla meyakini bahwa kelenturan tubuh juga akan tampak bukan hanya ketika ia dibengkokkan, tapi juga ketika ia tetap didiamkan begitu saja, tanpa tugas berat semacam pembengkokan. Tubuh yang diam di panggung dalam situasi yang subtil misalnya, kami yakini juga membutuhkan kelenturan dan kepekaan. Dengan pendekatan pada kajian hidup sehari-hari, kesubtilan posisi tubuh seringkali sangat dibutuhkan di pertunjukan kami. Situasi-situasi atau ruang pembingkai dalam hidup keseharian diturunkan atau malah dijabarkan menjadi bentukan tubuh yang mendukungnya.
Meneruskan contoh bagian sebelumnya, pertunjukan Jalur 17 sejak awal memakai ruang panggung yang merupakan lokasi asli kejadian. Dengan begitu kehadiran pemain lewat tubuh mereka dirancang sesubtil mungkin dan peristiwa tontonan yang dihadirkan harus sedekat mungkin dengan pengalaman keseharian aslinya.
Di tengah pementasan, setelah bus mogok, muncul pengamen perempuan yang tergangu mengamen karena dilecehkan si kenek Penyo. Tubuh gadis pengamen ini harus tetap terguncang meski ia merasa aman nyaman karena terbiasa di atas bus yang melaju tanpa pegangan. Matanya harus hanya melirik dan menatap sesaat penumpang karena jalanan mengajarkan menatap berlama-lama bisa menjadi perkara. Ia lebih baik mencakar dari pada memukul atau mencubit. Perkiraanya; cakaran lebih jalanan, cubitan lebih rumahan. Untuk menegaskan hal seperti ini elementer: pengamen itu harus segera tahu apa yang harus dilakukan dengan tubuhnya begitu ia naik bus, sama seperti kesiapan teknik muncul dalam panggung konvensional. Secara sosial, dalam konteks remaja, kenek dan pengamen ini mewakili remaja yang merasa sudah besar dan tidak banyak dirisaukan aturan sebagaimana yang dialami remaja lain.
Menyangkut perbandingan tubuh saat menjadi remaja pemberontak dan penawar, para aktor harus memahami pola dasar dengan kalimat: main teater tapi jangan terlihat main teater. Hal ini hampir sama dengan apa yang jaman dulu dikenal dengan istilah menghafal untuk dilupakan.
Sebagai kelompok teater yang cenderung dekat dengan realisme, Gardanalla menuntut kesubtilan akting dalam permainan. Bahkan untuk mengejar ini kami kadang memilih untuk menghilangkan atau meminimalisir power permainan. Pertimbangannya, penting bagi penonton untuk merasakan bahwa memang peristiwa yang ditontonnya itu memang tidak penting, setidaknya itulah pandangan orang dewasa, sebuah bias kelas menengah yang terjadi dalam menghadapi remaja. Bisa dilihat sambil lalu!
Peristiwa tontonan itu kadang disusun justru oleh sikap penonton yang juga bersikap seolah-olah mereka tidak menonton teater. Anyep! Dingin tak berasa! Hal ini lebih mengeras lagi jika dipertontonkan di ruang publik seperti bus kota atau mal. Penonton yang mengharapkan peristiwa Jalur 17 sebagai pementasan teater yang nyaman ditonton sepanjang pertunjukannya karena aktornya “sangat hadir” dengan energi yang besar dan tubuh yang tidak canggung hanya akan mendapatkan Jalur 17 sebagai jalur bus yang tanggung, yang tidak membawanya kemana-mana. Ia akan kecewa karena harapannya sendiri. Bahkan, ia seperti tidak merelakan kecuekannya, minimnya perhatian dari dirinya ikut menyusun pertunjukan hanya karena pementasannya membicarakan uang saku. Uang saku remaja pula! Bahkan untuk mendapatkan pelecehan semacam ini tubuh aktonya harus siap, karena sekali lagi memang pertunjukannya disusun atas kerelaan aktor dan penonton untuk juga memindahakan konteks sosialnya, misalnya sikap remeh kita atas isu yang diusung.
Secara umum ketiga seri dimaksudkan untuk menggambarkan sekaligus menawarkan perspektif lain dalam melihat reaksi mereka atas konstruksi teks dan konteks sosial yang diberlakukan pada remaja. Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003), Gardanalla mencoba menyoroti bagaimana refleksi remaja dilakukan atas lingkungan sosialnya (keluarga) yang dirasa berubah. Dua tokoh sentral, Ema dan Bram kebingungan ketika ayah mereka tiba-tiba terkena stroke. Dalam situasi ini selayaknya remaja dicitrakan di berbagai media mereka gagu dan kikuk dalam bersikap. semua aktivitas harian bergeser maknanya. Ema dihadirkan dalam beberapa monolog catatan hariannya atas segala peristiwa yang berlaku di rumah. Di monolog awal ia berdiri di atas panggung yang masih tidak terlalu penuh, tepat di center panggung untuk mengingatkan kita seperti inilah remaja ditempatkan, di tengah, ambigu, berlatarbelakang kekosongan. Monolog kedua dilakukan di kamar, tempat di mana ia dan remaja putri lain melakukan penawaran atas situasi luar dirinya seperi yang disinggung di atas. Monolog ketiga disampaikan di tengah panggung lagi namun dengan panggung sebagai konteks sosial yang lebih penuh sekaligus real, dengan Ayah di kursi roda dan Ema menyuapinya bubur.
Dalam seri pertama ini sekaligus Gardanalla menampilkan kembali disiplin keaktoran dimana pengenalan karakter disusun atas pernak-pernik akting di panggung, dan bukan hanya pada teks dramatik. Hal ini kami anggap bisa diakomodasi karena memang dipertunjukkan di panggung konvensional. Penubuhan aktor, dengan demikian dituntut untuk lebih peka pada apa dikonstruksikan dalam kehidupan keseharian dan merekonstruksinya di panggung. Adegan pembukaan perihal gambaran aktivitas keluarga Ema menegaskan hal tersebut. Apa yang dikatakan Saya Shiraishi tentang gambaran keluarga Indonesia ditampilkan di sana. Keluarga bahagia dua anak, Ibu menyiapkan sarapan, Ayah membaca koran, Ema bersiap jadi pemandu sorak lomba basket di sekolahnya dan Bram ribut membicarakan pertandingan bola. Sebagian besar adegan dilakukan di ruang makan dimana kehangatan keluarga dikembangkan, sekaligus bagaimana remaja dibentuk lewat kebersamaan lingkungan sosialnya dalam hal ini keluarga.
KEHADIRAN SOSIAL REMAJA
Sebagian kritik tentang produksi drama remaja Teater Gardanalla ditujukan untuk kecanggungan para aktornya yang masih remaja. Kemampuan akting mereka dianggap hanya sedikit lebih baik dari permainan aktor sinetron remaja. Hal ini mengingatkan kita bahwa kehadiran remaja selalu saja rentan, bahkan ketika mereka dihadirkan kembali di atas panggung (pun film/ sinteron) sebagai diri mereka sendiri.
Dalam pertunjukan teater rakyat yang dikenal sebagai teater pembebasan, sepanjang pengalaman saya, permainan aktor selalu mendapatkan permakluman jika vokalnya tidak keras atau salah bloking. Pementasan yang dilakukan oleh buruh, petani, pengemis atau anak jalanan itu dianggap sebagai murni aktualisasi diri mereka dalam proses pembebasan. Teknis akting dengan demikian dinomersekiankan. Isu dan tema yang diusung itulah yang dianggap utama. Penonton yang akan berkomentar buruk tentang permainan aktor teater rakyat itu, hanya akan ditertawakan. Kritik itu bukan pada tempatnya, begitulah kira-kira alasannya. Kalau mereka kebetulan bermain bagus, itu dianggap bonus. Hal yang sama tempaknya dialami oleh studi pentas di teater kampus, dimana sebagian orang beranggapan permainan bagus tidak bisa diharapkan di sana. Asumsinya, mereka bergabung dengan teater hanya sekedar supaya tidak terlibat narkoba selama masa kuliah. Teater adalah aktualisasi diri yang positif, sama seperti paduan suara, karate, basket, fotografi, pingpong, marching band dan semua kegiatan kampus lain. Anggapan ini tentu saja harus dilihat lagi.
Hal yang sama mengenai anggapan itu tidak saya inginkan dalam pementasan drama remaja Teater Gardanalla. Maksudnya bukan saya hendak membuat aktornya bermain sangat sempurna sehingga tidak dikritik dan memasukkan mereka dalam workshop yang keras, atau meminta permakluman penonton bahwa mereka toh hanya para remaja (atau aktor remaja) yang bermain dalam produksi drama remaja kali ini. Bukan seperti itu. Sejak awal saya mempertimbangkan bahwa semua eksekusi di panggung memang akan menjadi hal yang integral, dimana saya tidak ingin memisahkan permainan dan tema, teknis dan konsep. Pementasan dengan demikian harus dilihat secara utuh, bahkan lengkap dengan konteks sosial mereka dimana kehadiran remaja memang seperti yang direfleksikan di panggung. Canggung!
Masyarakat remaja, dengan cara kehadiran sosial mereka selama ini di media, dan di benak kita sebagai hasil konstruksi media itu, adalah wacana yang terus menerus bergulir meski miskin apresiasi. Melihat mereka dengan menggunakan pendekatan yang lebih demokratis, dimana mereka juga dilihat sebagai subyek yang punya metode resepsi sendiri berikut pilihan berartikulasi, secanggung apapun bentuk artikulasinya, sekiranya bisa membuat wacana ini sedikit terbuka jalannya untuk jadi melebar dan mendalam.
Dan, jika kita rela untuk melakukan pendekatan ini maka pertunjukan drama remaja Teater Gardanalla, termasuk di dalamnya Jalur 17, diharapkan dapat lebih mampu membawa Anda pada jalur pemaknaannya yang baru tentang masyarakat remaja, bukan jalur yang tidak mengantar Anda kemana-mana.@
(Joned Suryatmoko, Manajer Produksi Artistik & Sutradara Teater Gardanalla)