Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.
Latest Review
The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng
Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.
Latest English Section
Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia
Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.
Latest Issue
Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla
Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).
Latest Portal
Archive for September, 2010
Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia
Thursday, September 16th, 2010The Body of Youth Society in Gardanalla Performances
Thursday, September 16th, 2010I imagined this article as a medium to share experiences, rather than theoretical way to observe an art practice. Within I will focus my own experience (as director of Gardanalla Theater) in producing three plays about youth which are Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (My dad got stroke, but not yet dead, -2003,2005), Ah, Kamu! (Oh you! – 2004) and Jalur 17 (Track 17-2005). I will tell how Gardanalla viewed the social body of youth and performed it on stage based on everyday life studies, especially on teenage issues.
Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla
Thursday, September 16th, 2010Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).