7 February 2012 12:49:07 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for August, 2010

Theoritical Exploration: Written Body, Writing On the Body In Dance Studies

Monday, August 9th, 2010

There are some interesting utterances expressed by Indonesian dancers and choreographers regarding to the concept of dancing body, which implicitly revealed the relation between the concept of body and cultural identity.

When I helped to edit the articles in the program book for Calon Arang performance, a collaboration between Retno Maruti and Bulantrisna Jelantik, Bulantrisna advised me not to forget to mention Biang Sengog as her teacher.

Jelajah Teoretis: Tubuh Tertulis, Menulis Tentang Tubuh dalam Kajian Tari

Monday, August 9th, 2010

Ada ucapan menarik dari beberapa penari dan koreografer Indonesia tentang konsepsi tubuh yang menari (dancing body) yang secara tidak langsung mengungkapkan kaitan konsepsi tubuh dengan identitas kultural.
Ketika saya membantu mengedit tulisan di buku program pementasan Calon Arang, kolaborasi antara Retno Maruti dan Bulantrisna Jelantik, Bulantrisna berpesan agar saya jangan lupa menyebut Biang Sengog sebagai guru beliau.