7 February 2012 12:59:36 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Tatapan Penonton

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Kamis, 22 Juni 2006, Teater Bong Taman Budaya Surakarta

Prolog

Malam itu Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Tengah—Surakarta berhasil disulap menjadi gundukan-gundukan bukit, hamparan sawah dan pelataran-pelataran halaman sebuah desa. Asap mengepul dari tungku-tungku. Entah hari itu pagi atau siang atau sore atau malam—tak terang benar—tapi sebuah desa (dan seisinya) telah dibangun Wahyu ‘Inonk’ Widayati dan kawan-kawan.

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena. Mereka semua datang untuk menyaksikan sebuah peristiwa atau sebuah doa sebagaimana yang dijanjikan dalam buku pertunjukan ‘The Destiny of Dewi Sri’ (TDoDS), pertunjukan tari yang didukung oleh Yayasan Kelola.

….

Akhirnya nasib Dewi Sri-lah yang menentukan arah kehidupan. Semoga pergelaran karya tari The Destiny of Dewi Sri bisa menjadi doa untuk negeri ini. (leaflet pertunjukan The Destiny of Dewi Sri)

Mbak Inonk—demikian koreografer ini biasa dipanggil—meniatkan TDoDS sebagai sebuah pandangan yang berbeda dari kacamata perempuan terhadap wacana perempuan yang menurutnya selalu berkenaan dengan dua hal yang paradoksal: tubuh yang molek atau penderitaan yang berkepanjangan. Yang keduanya, imbuhnya, bernuansa atau mempresentasikan dominasi kekuasaan kaum lelaki, ekonomi bahkan pemahaman agama dan seni sendiri. Pertunjukan ini adalah sebuah perlawanan atau pernyataan dari perempuan atas nasib mereka selama ini, begitu simpul saya. Mungkin keliru. Tapi saya butuh semacam pegangan untuk memaknai peristiwa yang sebentar lagi akan dimulai.

Saya lanjutkan membaca sambil menunggu jam delapan malam tiba.

…

Dewi Sri yang selama ini digambarkan sebagai sosok perempuan yang penuh kesempurnaan, kecantikan, kemakmuran, kesuburan. Tetapi sosok yang secara imaji digambarkan jelita itu hadir dalam kenyataan yang berbeda. …..… (leaflet pertunjukan TDoDS)

Mbak Inonk tampak akan menggunakan Dewi Sri, satu figur yang sudah sedemikian akrab bagi orang Jawa, sebagai metafora dunia perempuan, dunia paradoks sebagaimana yang dikatakannya di awal. Dewi Sri memang kadung mendarah daging dalam dunia orang Jawa. Dewi kesuburan itu menjadi pujaan warga tani yang mengharapkan karunia darinya. Saking populernya, cerita Dewi Sri yang terdokumentasi dalam berbagai serat itu memiliki 22 varian alias 22 arus besar(Dra. Suyami, M. Hum dalam tesisnya: Serat Cariyos Dewi Dalam Perbandingan (1999)). Belum lagi Dewi Sri yang meluncur dari mulut ke mulut—tentu saja ia memiliki ribuan wajah. Saya jadi menduga-duga, wajah yang mana yang akan hadir dalam TDoDS.

…

Persoalan Bumi Pertiwi, tanah negeri ini serasa tidak kunjung berhenti. Berbagai persoalan seakan menyeruak ke permukaan secara bersamaan, larang pangan, paceklik, busung lapar dan gizi buruk melanda pelosok negeri ini, harga beras naik, bahkan persoalan beras import yang tak kunjung berhenti. Dewi Sri menjadi IKON yang paling pas mewakili persoalan negeri ini. …….  (leaflet pertunjukan TDoDS)

TDoDS seperti hendak merangkul beberapa soal yang hadir dalam masyarakat belakangan ini. Dan, sekali lagi, Dewi Sri dianggap sebagai kode bersama atas seluruh soal yang hendak diutarakan. Atau dengan kata lain, Dewi Sri (seorang tokoh perempuan dalam dongeng cinta Jawa), memiliki beban di pundaknya untuk menghadirkan segenap soal yang dipaparkan dalam pengantar pertunjukan. Saya semakin berdebar menanti pertunjukan dimulai. Meski sesungguhnya, jika saya melanggar aturan pertunjukan TDoDS yang baru akan dimulai pada jam delapan, pertunjukan ini telah dimulai sejak beberapa waktu yang lalu. Ketika asap-asap mulai mengepul dari dua tungku yang diletakkan di saling berseberangan di arena pertunjukan, ketika beberapa orang (kru panggung) terus menjaga nyala api di kedua tungku tersebut, ketika penata cahaya mencoba-coba nyala lampunya, ketika orang-orang mulai berdatangan dari berbagai arah, ketika penjual-penjual kacang menggelar dagangannya di sekitar arena pertunjukan, ketika anak-anak mulai berlarian saling berkejaran—sesekali melintasi arena pertunjukan. Pertunjukan telah dimulai sebelum master of ceremony (elemen formal—yang datang dari logika gedung pertunjukan formal—yang dilekatkan dengan paksa dalam struktur pertunjukan TDoDS) mempersilahkan penonton untuk menempati tempat yang telah disediakan, mengucapkan selamat datang dan menandai dimulainya pertunjukan).

Lalu orang-orang bertepuk, anak-anak bersorak, TDoDS baru saja dimulai.

The Destiny of Dewi Sri

Di puncak bukit orang-orang desa menabuh lesung menyanyikan lagon tiyang dusun (yang meski tanpa lagu itu penonton pun tahu bahwa yang membunyikan lesung itu adalah ibu-ibu dari karang padesan). Asap mengepul tebal mengelilingi lesung dan para penabuhnya. Asap yang terlalu tebal hingga mengganggu pandangan mata dan mirip kebakaran hutan. Lagu mengalir—medley—hingga berakhir di cublak-cublak suweng. Sementara itu di latar depan, di dua tungku yang diletakkan berseberangan di tengah teater arena, tiga lelaki (Guntur, Danang, Agus mBendhol) menyalakan tungku. Mereka menyalakan tungku dengan sedikit kikuk, mungkin karena tidak terbiasa, hingga beberapa penonton yang biasa menyalakan tungku bergeremeng menertawakan, apalagi ketika salah seorang dari tiga lelaki tersebut meniup langsung bara di tungku tanpa menggunakan semprong. Wajan besar telah terpasang sejak mula. Setelah api menyala mereka mengaduk adonan di dalam wajan. Adegan ini berlangsung cukup lama, seperti tak beranjak ke mana-mana: hampir-hampir tak ada pertumbuhan. Hingga kemudian pelahan desa telah bangun dari tidurnya. Orang-orang desa mengawali dunia kesehariannya. Seperti sebuah panorama pagi. Orang-orang desa memulai kerja, berjalan di keremangan cahaya pagi menuju sawah, tegal, pasar dan belik. Adegan ini juga berlangsung tak kalah lama. Pesan sudah sampai sedari tadi, tapi kenapa disampaikan berulang-ulang. Dan di sesela punggung bukit yang menyala oleh sinar matahari Dewi Sri (Irawati Kusumarasri) hadir seolah mengayomi atau melindungi kerja warga desa. Sang dewi menari. Di sini adegan berlangsung cukup menggigit. Dewi Sri yang memakai ragam gerak extra-daily behaviour berpadan dengan warga desa yang menggunakan ragam gerak daily behaviour—seturut klasifikasi gerak yang dimunculkan Euginio Barba—paradoks yang menimbulkan efek visual yang kuat. Sayang, kekuatan adegan ini seperti hilang karena tak segera diikuti oleh sebuah pertumbuhan atau perkembangan yang bisa mengangkat dramatika yang sudah mulai tercipta. Kekuatan itu pelahan sirna karena kelembamannya. Juga oleh permainan Dewi Sri yang terlalu sibuk menggambarkan kecantikan dan keanggunannya.

Seorang wanita desa dengan menggendong seikat daun-daun hijau dengan ukuran yang tak sewajarnya (daunan yang digendong itu demikian besar hingga menelan tubuhnya) melintas dengan pelan mencuri perhatian. Kostum Dewi Sri yang demikian indah menjadi hilang bersanding dengan bentuk aneh yang dibawakan Mbak Inonk tersebut. Sosok ini demikian kuat dan menyita perhatian justru karena kesederhanaannya (juga ketepatannya dalam menggambarkan sosok tiyang dusun). Sosok ini terus mencuri perhatian kemana pun ia bergerak. Lalu perempuan-perempuan perkasa yang lain bermunculan dan bergerak rampak bersama Mbak Inonk. Mereka menari dengan ragam gerak yang sederhana, mungkin menggambarkan kesederhanaan wanita-wanita desa, di antara dua tungku yang menyala.  Irama berubah menjadi lebih cepat, berkesan rapat dan sigap sejalan dengan gerak rampak yang dimunculkan. Lalu tiga lelaki yang menyalakan tungku di awal bergabung bersama mereka, menari bersama. Dari bergerombol hingga berbaris memanjang menghubungkan satu tungku dengan tungku yang satunya. Lalu piring-piring tanah liat yang diisi dengan adonan semacam jenang dari wajan diangsurkan berantai dari satu tangan ke tangan yang lain. Mulanya satu arah kemudian berubah menjadi dua arah—komposisi yang terlihat sederhana namun senyatanya rumit dan butuh konsentrasi. Lalu, dengan mengejutkan, adegan dipecah oleh sebuah piring yang pecah.  Agus mBendhol menjatuhkan piring. Ia kemudian menjatuhkan dirinya, menyesali kecelakaan yang barusan terjadi. Sementara yang lain masih melanjutkan rutinitas semula. Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Agus mBendhol menangis, ia meraung menghancurkan komposisi. Orang-orang meninggalkan kerjanya mengerumuni Agus, berputar dengan cepat seperti gulungan atau pusaran angin.

Suasana bergerak menjadi mengerikan. Bencana seperti tengah terjadi. Kelaparan, kekacauan, huru-hara, hantu-hantu bangkit dari tidurnya. Dewi Sri hanya bisa menangis di kejauhan, meratapi ketenangan desa yang telah terkoyak. Lalu, seperti memendam dendam, Dewi Sri bergerak ke depan, ke tengah arena, tangan kanannya menyandang bedil. Mungkin bedil ini telah disandangnya sejak mula (atau sejak kapan) tapi karena posisi yang selalu di belakang membuat detil atas sosok Dewi Sri sedikit terganggu. Dewi Sri bergetar dan dipuncak ia menyalakkan bedilnya. Dor! Dor! Di atas sebuah gedung (persis di belakang penonton) seorang perempuan melolong seperti lolongan hantu diikuti bunyi puluhan kaleng yang berderak. Peri Kaleng (Queen Sriharjanti) katakanlah demikian untuk menyebut sesosok perempuan yang tubuhnya digelantungi puluhan kaleng, menampakkan dirinya. Bergerak memproduksi bunyi kaleng rombeng yang tak mengenakkan telinga.  Ia seperti penanda bencana, si sumber perkara. Sosok ini demikian mengejutkan dan tak terduga. Dewi Sri dan orang-orang desa masih berada di ranah yang sama: desa dan Jawa. Tapi seorang perempuan dengan kaleng-kaleng yang bergelantungan, ia datang dari dunia yang berbeda. Mbak Inonk selaku koreografer menampakkan kejeliannya. Menabrakkan dua dunia yang berbeda: desa dan kota. Peri Kaleng bukanlah produk desa. Ia datang dari luar. Ia datang dari kota. Dari sesuatu yang disebut modern. Dan efek dari kehadiran Peri Kaleng ini begitu besar. Kehadirannya seperti menjelaskan bahwa pertunjukan ini bukanlah sebuah nostalgia. Bukan pertunjukan yang mengelus-elus eksotika desa dan dunianya. Tapi sebuah realitas yang keras yang saat ini masih terus terjadi. Benturan antara yang disebut modern dan yang disebut bukan modern. Sayang, benturan ini hanya dimaknai sebagai sesuatu yang negatif dan tidak produktif. Hanya dimaknai sebagai bencana. Sebuah potensi yang segera dikebiri.

Peri Kaleng terus melolong. Membangunkan lolongan-lolongan lain di punggung-punggung bukit. Jeritan-jeritan manusia berlumpur. Peri Kaleng meluncur turun dari atas dengan seutas tali yang dilemparkannya ke bawah. Ia berjalan dengan geram, menggoyangkan tubuh kalengnya, seperti sebuah ancaman yang bergerak memasuki dunia desa. Ia bergerak memasuki arena. Kejadian berikutnya berlangsung dengan cepat dan kuat. Begitu Peri Kaleng menginjakkan kakinya di arena, Mbak Inonk menyambutnya dengan sebuah gerobak sampah. Peri Kaleng diambil dan dilemparkannya ke dalam gerobak. Seperti seonggok sampah. Verbal tapi cerdas. Sampah itu dibuang di ruang belakang, di kaki bukit dan disambut Dewi Sri. Tak terang apa yang terjadi kemudian. Pertentangan Peri Kaleng dan Dewi Sri tak tergambar dengan jelas. Mungkin karena pilihan tempat yang jauh di belakang, hingga kurang mampu menjadi adegan yang kuat. Kedatangan Peri Kaleng juga disambut dengan gempita oleh manusia-manusia lumpur. Sebenarnya secara visual sosok-sosok manusia berlumpur ini sangat menarik. Tapi karena bermain terlalu jauh ke belakang atau pencahayaan yang kurang, penonton tak mampu menangkap dengan detil  sosok mereka. Di kulit lumpur itu tertempel bulir-bulir gabah. Sebuah visualisasi yang sebenarnya menjanjikan.

Sepeninggal Peri Kaleng dan manusia-manusia lumpur, suasana berangsur menjadi tenang. Tapi ketenangan dan kedamaian yang berbeda dengan semula. Tenang yang mengandung kesedihan. Kedamaian yang menyimpan kesakitan. Puing-puing pascabencana. Hanya tersisa tembang-tembang panglipur, seperti berusaha menyembuhkan tapi tak kuasa. Kesedihan yang berlarut-larut. Desa telah berubah, telah beranjak pergi menuju sebuah tempat bernama entah. Di tengah keheningan macam itulah Ibu Bumi yang Sakit (Fitri Setyaningsih), nama yang saya ambil begitu saja untuk menamai sosok perempuan bercaping dengan lumuran lumpur dan belitan reranting kering, bangkit menggeliat memasuki arena. Sosok perempuan ini mengenakan dua sandal kotak raksasa. Dengan langkah yang tertahan karena keterbatasan yang diciptakan sandal ia melangkah memasuki arena. Pelahan dan terpatah-patah langkahnya—karena memang sulit melangkah, sementara torsonya menggeliat dengan indah tapi menggambarkan kesakitan; derita panjang yang tak habis-habis. Dan dengan mudah ditebak, sosok Ibu Bumi ini bertemu dengan Dewi Sri. Keduanya bertemu seperti dua teman lama. Bertemu kawan sebaya dengan luka yang sama.


Epilog

Pertunjukan selesai dengan meninggalkan beberapa hal yang belum usai dalam kepala saya. TDoDS adalah sebuah pertunjukan yang memiliki potensi untuk menjadi sebuah pertunjukan yang kuat. Sayang, ia berhenti di sana. Tema yang mengambang dan struktur yang lemah membuat pertunjukan ini mengalir tanpa tekanan. Hal yang ingin disampaikan demikian bertumpuk: perempuan, desa, Dewi Sri, bencana, juga sampah modernitas. Butuh struktur yang kokoh untuk bisa mewadahi semua itu dalam satu rentang pertunjukan. Elaborasi tema yang tidak terlalu jauh semakin memiskinkan pertunjukan ini, TDoDS berhenti dan hanya bermain di wilayah permukaan. TDoDS tak mampu menghadirkan esensi hal-hal yang ingin disampaikannya. Misal: wacana gender yang ingin diusung dalam TDoDS hanya berhenti pada tataran emansipasi, sosok Dewi Sri hadir begitu saja sebagaimana pemahaman umum orang atas sosok dewi kesuburan atau bisa dikatakan tak ada tafsir baru atas Dewi Padi ini selain diberi property bedil, dunia keseharian warga desa yang diangkat juga masih bermain di wilayah kulit muka, serta modernitas yang hanya diberi label sebagai sesuatu yang negatif. Dan terakhir dan tak kalah penting, Mbak Inonk selaku koreografer kurang berani memangkas dan membuang adegan-adegan yang tak perlu. Kelemahan ini membuat TDoDS di beberapa bagian menjadi membosankan dan berpanjang-panjang. TDoDS masih sangat mungkin untuk dipadatkan lagi.

Di samping sedikit kelemahan di atas, TDoDS sebagai sebuah pertunjukan juga mampu menyingkap beberapa kemungkinan yang menarik untuk dicatat dan dibicarakan lebih jauh. Antara lain: sebagai sebuah karya yang berbasis pada ruang spesifik, TDoDS memiliki nilai lebih. Pertunjukan semacam ini memang tidak bisa dengan mudah dipindah-ruangkan dengan begitu saja. TDoDS sangat menghitung gundukan-gundukan tanah di belakang teater arena, nisan di sesela penonton, gedung di depannya, pohon-pohon dan sebagainya. Pertunjukan ini adalah perkara interaksi antara TDoDS (Mbak Inonk dan penari-penari lain) dengan ruang yang sudah tersedia dan sangat khas (tidak bisa diubah dengan mudah). Dan dalam hal ini TDoDS bisa dikatakan berhasil. Yang kedua adalah kesediaan dan kemampuan Mbak Inonk bermain dalam paradoks atau ketegangan juga membuat TDoDS patut dicatat. Beberapa ketegangan yang muncul di antaranya adalah: desa dan kota, mitologi dan tehnologi, lama dan baru, penari tua dan penari muda, penari dan bukan penari. Sebagai penggagas tema dan koregrafer, Mbak Inonk tampak dengan terbuka menerima seluruh kemungkinan yang muncul dari paradoks ini, mengikuti serta mengakomodasinya. Di sisi yang lain, TDoDS adalah kesediaan Mbak Inonk untuk menjelajah kemungkinan-kemungkinan yang sangat terbuka dalam seni pertunjukan. Terlihat dengan jelas bagaimana usaha keras Mbak Inonk untuk keluar dari gaya yang selama ini dipakainya bersama kelompok Sahita.

Malam itu saya langsung pulang ke Jogja bersama Afrizal Malna, seorang penulis yang belakangan ini banyak mengamati dunia tari dan Fitri Setyaningsih, salah satu penari TDoDS. Dalam mobil yang membawa kami saya banyak diam. Dan diam-diam merasa kehilangan dan kangen pada karya-karya Mbak Inonk sebelumnya: Srimpi Srimpet atau Bedhaya Ketawang Lima Ganep—yang segar, jenaka dan tajam. Tapi demikianlah pertumbuhan. Ada yang harus hilang. Ada yang datang. Dan Mbak Inonk sedang memulai perjalanan yang baru. Menuju sesuatu.

Jogjakarta, Juni 2006

(Gunawan Maryanto, penulis dan sutradara Teater Garasi)

* artikel ini diterbitkan pertama kali di Lèbur No.05/2006

Comments

Leave a Reply