20 May 2012 06:32:22 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for January, 2006

Teater Tak Mungkin Mandiri (?)

Tuesday, January 10th, 2006

Ringkasan Diskusi “Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi”

Sewindu Teater Gardanalla – Yogyakarta, 19 Desember 2005

Tanggal 15 Desember 2005 yang lalu, Teater Gardanalla yang berbasis di Yogyakarta memasuki usia sewindu. Untuk menandainya Gardanalla menyusun serangkaian acara pada tanggal 14 s.d 19 Desember 2005 yang terdiri dari Dramatic Reading on Spot di Radio Geronimo FM (14 s.d 19 Desember); Penerbitan Buku Ayahku Stroke Tapi Nggak Mati, 3 Naskah Drama Teater Gardanalla 2003-2005; Pementasan Drama Tingkat Akhir Bukunya Bergerak-Gerak (16 s.d 17 Desember); dan Diskusi Terbatas dengan tema Modal Berteater dan Kemandirian Ekonomi (19 Desember).