20 May 2012 06:38:29 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for January, 2006

A Visit to Tutup Ngisor Community; An interview by Gunawan Maryanto

Tuesday, January 31st, 2006

By the end of 2002, it was Sunday, the 28th of December, I and some actor friends from Teater Garasi visited the hamlet of Tutup Ngisor by the slope of Mount Merapi. In the hamlet that administratively belongs to the village of Sumber in Dukun Sub-district of Magelang District, Central Java, lives a community called Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor. Visiting them was part of our creative process for Waktu Batu, a repertoire then in the making.

Theater Independency is Unlikely (?)

Tuesday, January 31st, 2006

If a theater organization crumbles, what can be the cause? It can be either a lack of financial capital or merely a matter of financial management capability. Those who are for the first answer tend to be bigger in number. Variant of this answer refers to some structural and cultural matter of the society and government. Lacking funding institution and government support, and the absence of any regulation on tax paid by commercial companies to subsidize art and cultural activities, and also the low enthusiasm of people to attend performances are quoted as the main reasons for the breakdown a theater organization.

Jalur 17: Jalur (Teater) yang Tanggung

Tuesday, January 31st, 2006

Harga BBM naik, maka semua harga barang pun ikut naik. Kondisi ini membuat Rini (kakak) dan Rio (adik) merasa perlu untuk meminta kenaikan uang saku pada orang tua mereka. Di lain sisi mereka tahu bahwa hal ini akan mengalami banyak tentangan dari orang tua mengingat gaji ayah belum atau tidak naik. Sementara itu di antara Rini dan Rio sendiri ada pertentangan. Rini menekankan supaya kenaikan uang saku hanya untuk mencukupi biaya kebutuhan mereka yang membengkak, tapi tidak untuk membuat pos belanja baru. Sementara Rio berniat membuat pos baru dengan menyusupkan keinginannya untuk memasukkan anggaran pacaran jika uang saku akan dinaikkan.

I La Galigo Robert Wilson dan Taman Mini

Tuesday, January 31st, 2006

Teater Tanah Air, gedung pertunjukan tempat I La Galigo dimainkan, adalah gedung yang berada di tengah komplek monumen yang berkarat. Gedung teater ini terletak di belakang Stasiun Taman Budaya, berhadapan dengan Anjungan Propinsi Bengkulu, bagian dari proyek miniatur Indonesia yang dicanangkan di tahun 1970. Taman Mini adalah Indonesia yang saya kira sudah saya kenali, 20 tahun yang lalu, di kali pertama saya mendatangi tempat itu sebagai seorang bocah berusia tujuh tahun.

‘Budaya Asli’, Pengaruh Barat, dan Kebudayaan sebuah Negara ‘Modern’: Pertentangan di sekitar Perkembangan Ideologi dan Praksis Seni Teater Nasional Indonesia

Tuesday, January 31st, 2006

Selama Orde Baru, kita menyaksikan sebentuk ketegangan di antara seni teater nasional dan fungsi politis negara. Larangan teater yang memuncak pada tahun 90-an hanya salah satu gejala ketegangan tersebut. Kenapa ketegangan demikian perlu terjadi? Apa artinya? Dan bagaimana kita merumuskannya dalam kerangka budaya nasional? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.

Yang saya maksudkan dengan istilah ‘budaya nasional’ adalah hasil-hasil budaya yang menggunakan bahasa Indonesia (meskipun batasan ini sering tidak berlaku untuk seni lukis, patung, dan sebagainya.), diciptakan dengan niat untuk dijadikan sumbangan pada budaya nasional yang bersifat baru, dan cenderung mencari hubungan dengan arus kesenian internasional yang sedang berkembang. Lebih spesifik lagi, saya ingin memusatkan perhatian pada seni teater nasional. “Seni teater nasional” adalah teater yang mengutamakan bobot unsur “seni-nya” dan bukan hiburan belaka, walaupun unsur hiburan sering, kalau tidak selalu, juga perlu ada.

Percakapan antara Pasar Sub-Budaya ‘Underground’ dan Daya Tahan Gagasan

Tuesday, January 31st, 2006

Tulisan berikut berangkat dari fenomena sub-budaya “underground” sebagai budaya anak muda di Indonesia sepuluh tahun terakhir ini. Suatu sub-budaya yang mendasarkan diri pada kemandirian (dengan satu term populernya: DYI atau do it yourself) dalam pengertian yang mendasar, menyangkut posisi politik individu atau kelompok menghadapi gelombang ideologi politik dan pasar global. Harus dicatat, bahwa pengertian yang baru saja dipaparkan di sini adalah sebuah generalisasi yang perwujudannya bisa sangat beragam. Dalam praktik, definisi “undergorund”, karena keragaman para pemainnya, tidak pernah tunggal dan kerap menimbulkan pertentangan. Penyimpulan di atas saya lakukan lebih untuk menunjuk aras identitas yang dipantulkannya ke depan publik.

Berkunjung ke Kaki Gunung: Sebuah Percakapan dengan Komunitas Tutup Ngisor

Tuesday, January 31st, 2006

Akhir bulan Desember 2002, tepatnya hari Minggu tanggal 28, saya dan beberapa aktor Teater Garasi berkunjung ke dusun Tutup Ngisor di kaki Gunung Merapi. Di dusun yang masuk wilayah Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, terdapat sebuah komunitas seni bernama Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor. Kunjungan ini adalah bagian dari proses penciptaan ‘Waktu Batu’, sebuah repertoar yang saat itu tengah kami persiapkan.

Butet Kertaredjasa

Monday, January 23rd, 2006

“Ketika saya bermain dalam kaidah seni pertunjukanku, kuwi tak golek-goleki. Tak eker-eker. Biasane nemu.”

Itulah salah satu pengakuan Butet, aktor, praktisi menejemen seni pertunjukan yang mumpuni, direktur Padepokan Latihan Tari Bagong Kussudiardjo yang lebih sering memilih predikat penjaja jasa akting setiap kali ditanya tentang identitas dirinya. Entah apa yang tertulis di KTPnya. Siang itu kami ngobrol di teras rumahnya, di dusun Kembaran Tirtonirmolo Bantul untuk mengulik tradisi keaktorannya yang tak mungkin mengelak dari praktik pelisanan bahasa verbal.

Teater, Sabun, dan Celana Usmar

Saturday, January 14th, 2006

Teater Indonesia memang penuh pengorbanan. Itu sudah terjadi sejak zaman Jepang, atau jauh sebelumnya. Bahkan sebelum sinetron dan film bioskop mendominasi dunia peran. Sebelum orang punya banyak pilihan untuk menghibur diri. Dari cuplikan artikel majalah Tempo, 12 Agustus 1972, kita bisa membandingkan kondisi teater saat ini dengan 60 tahun lampau, yang ternyata tak jauh berbeda. “Buaja-buaja panggung pernah tidak beruntung dalam dua hal. Rezekinja sangat suram. Di tahun 1943 perkumpulan sandiwara amatir jang disebut Maya, sampai-sampai mendjual tjelana almarhum Usmar Ismail untuk membiajai pementasan “Taufan di atas Asia” karangan El Hakim alias Dr. Abu Hanifah.

STB: Tonggak Sejarah Teater Klangenan

Thursday, January 12th, 2006

Entah siapa yang mula-mula mengumandangkan bahwa Studiklub Teater Bandung (STB) adalah kelompok teater (modern) tertua di Indonesia. Jika anggapan itu memang penting dalam wacana teater Indonesia, sudah barang tentu diperlukan parameter tersendiri untuk dijadikan ukuran atau patokan: dalam konteks seperti apa STB layak dinilai sebagai kelompok teater tertua di Indonesia.

Sehubungan dengan hal di atas, ada dua sudut pandang yang cukup berhraga untuk dilihat yang ditawarkan dua tokoh sejarawan teater dan budayawan di kota Bandung. Kedua tokoh itu adalah Jakob Sumardjo dan Saini KM.