7 February 2012 12:47:53 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for July, 2005

Learning to Swim Upstream: Experiene with ‘Mas’ Roedjito

Sunday, July 31st, 2005

During my research on modern theater in Jakarta, which took place over two years (1989-1991), I often met with Roedjito at his home to talk together about many things. Our conversations, sometimes they would be hours, were not epitomized by exchanging information and facts concerning theater for the sake of my research; rather, they tended to move around the problems and meanings of life. I got a lot from Roedjito, and he (directly and otherwise) had his part to influence and shape my dissertation and, on a broader level, my thinking and view of life ever since. This writing is on various ideas and experiences I had with and of him.

Panggung Teater Realis Indonesia

Sunday, July 31st, 2005

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Panggung Teater Realis Indonesia pada 26 November hingga 2 Desember 2004 lalu di Graha Bakti Budaya dan Teater kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tujuh grup teater—yang dianggap bisa merepresentasikan “teater-realis di Indonesia—ditampilkan. Studi Klub Teater (STB) Bandung mengusung lakon “Nyanyian Angsa” karya Anton Chekov, Teater Makassar (Makassar) mementaskan “Hantu-Hantu” karya Henrik Ibsen, Teater Gidag Gidig (Solo) memanggungkan “Mainan Kaca” karya Tennesse Williams, Teater Aristokrat (Jakarta) menggelar “Polisi” karya Slawomir Mrozek, Komunitas Satu Kosong Delapan (Bali) memainkan “Matinya Pedagang Keliling” karya Arthur Miller, Teater Gapit (Solo) membesut lakon Dag Dig Dug karya Putu Wijaya, dan Teater Populer mengangkat drama “Pakaian dan Kepalsuan” karya Avarchenko.

Membaca Hanuman, Manusia, dan Homo Erectus

Sunday, July 31st, 2005

Dari cerita-cerita yang saya dengar, saya berusaha mereka-reka keadaan yang melingkupi pelemparan telur busuk pada pertunjukan di Solo pada tanggal 8 April 1971. Upaya mereka-reka ini juga saya lakukan untuk melihat peta yang melingkupi seri Ketchak Rina (1973), Dongeng dari Dirah (1974), juga pada seri pertunjukan dengan kesadaran ekologi seperti Meta Ekologi ( 1979) atau Hutan Plastik (1983).

Beberapa pertanyaan bermunculan, terutama karena keterbatasan data. Mengenai episode pelemparan di Solo, apakah kondisi itu disebabkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan Sardono pada konvensi tari Jawa yang sedemikian ekstrim atau lebih disebabkan konteks spasial publiknya? Mengenai episode ketchak dan Bali, apakah siasat kebudayaan yang sedang dipraktikkan Sardono dan bagaimana sesungguhnya prosedur penciptaan yang diusungnya? Mengenai episode seri ekologi, bagaimanakah posisi tematik ini dalam peta global pasar wacana?

Lelaki Besi di Balik Karya Besi; Sebuah Wawancara dengan Lik War, Tukang Las, Temannya Seniman

Sunday, July 31st, 2005

Semula lelaki hitam dengan bekas-bekas luka di tangan ini datang ke Jogja untuk membuka warung pecel lele, tetapi peristiwa-peristiwa telah menggiringnya ke arah lain. Warsito, lelaki itu, kini telah tegak di samping (untuk menghindari kata di belakang) karya-karya beberapa seniman Jogjakarta, khususnya perupa, dan khususnya karya-karya yang menggunakan bahan dasar besi. Nindityo Adipurnomo, Samuel Indratma, Bambang ‘Toko’ Wicaksono, Vensha, Jompet, Moh. Marzuki, Teater Garasi dan beberapa nama lain telah memetik hikmah keahlian lelaki ini dalam mewujudkan ide-ide mereka. Profesinya sebagai tukang las telah membuka jalan hidupnya ke wilayah yang semula hanya disimpan jauh-jauh dalam mimpinya: dunia kesenian.

Belajar Berenang Menghulu di Sungai: Pengalaman Bersama Mas Roedjito

Sunday, July 31st, 2005

Selama penelitian saya mengenai teater modern di Jakarta yang berlangsung selama lebih dari dua tahun (1989-1991) saya sering bertemu Roedjito di rumahnya untuk bicara berdua tentang banyak hal. Pembicaraan itu, yang kadang-kadang bisa sampai beberapa jam, tidak bersifat pertukaran informasi atau fakta-fakta teater demi penelitian saya, melainkan lebih mengudap rasa terhadap persoalan dan makna hidup. Saya mendapatkan banyak dari Roedjito, dan dia (secara langsung maupun tidak langsung) ikut mempengaruhi dan membentuk disertasi saya dan lebih luas lagi cara berfikir dan pandangan hidup saya seterusnya. Tulisan saya ini mengandung berbagai pikiran dan pengalaman saya bersama Roedjito.

Wayang Kulit pada Margin Kolonial

Wednesday, July 13th, 2005

Pesona Sang Surya di Ann Arbor

Pukul 8 malam tanggal 1 April 1988 sekelompok hadirin yang terdiri atas 1000 orang lebih duduk di bangsal setengah lingkaran yang adalah Auditorium Rackham di University of Michigan, AS, untuk menonton/mendengarkan The Marriage of Arjuna, suatu lakon wayang kulit Jawa yang dipergelarkan oleh dalang tamu Widyanto S. Putro, kelompok karawitan Jawa universitas itu, dan ’seniman tamu’ Minarno, Sumarsam, R. Anderson Sutton, dan Richard Wallis.1 Di buku acara semua nama itu terdaftar, dengan kelompok karawitan Jawa menjadi yang paling ditonjolkan. Judul lakon itu dalam versi Jawa, yaitu Arjuna Wiwaha, tidak tertulis di buku acara, meski banyak bagian teks diucap atau dinyanyikan dalam bahasa Jawa.

The Rite Of Labour Market Playing With Graduation day Occasion

Tuesday, July 12th, 2005

In the late 1980’s when I was becoming a freshman in Universitas Gajah Mada, a university sited in the northern part of Jogja, one thing that immediately grabbed my attention was the view of the graduation day service. What stirred me was actually quite simple, that someone could actually stand being wrapped for hours in a black robe in a tropical country such as Indonesia. The heat must be excruciating. How could they endure such thing?

“Fashion Show”dan Seni Pertunjukan

Tuesday, July 12th, 2005

Dalam beberapa tahun terakhir ada perkembangan menarik di atas catwalk. Pagelaran busana tidak lagi membosankan. Tidak cuma catwalk putih lurus yang di atasnya para model berjalan lempang, lalu berpose satu-dua detik di ujungnya untuk memberi kesempatan kepada fotografer mengambil gambar terbaik.

Fashion show sudah menjadi pertunjukan menarik di mana para model ada yang menari, jumpalitan seperti pemain sirkus, atau membaca puisi. Bahkan ada sebagian desainer yang menjadikan catwalk sebagai panggung teater. Yang lebih progresif menjadikan fashion show sebagai sebuah pertunjukan seni.