20 May 2012 06:31:53 PM | 15630 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for August, 2004

Pameran Seni Rupa Mengenal Ras: Catatan Saksi Mata

Sunday, August 29th, 2004

Saya memaknai penonton sebagai sebagai konsumen dunia seni rupa. Konsumen di sini tidak selalu berarti kolektor karya seni rupa, tapi mereka yang mempergunakan atau yang menggunakan daya aksesnya—secara aktif maupun pasif—terhadap segala sisi dunia seni rupa, terutama galeri/ruang pamer.

Selama ini keadaan mengenai dunia seni rupa di Indonesia diwakili oleh tulisan-tulisan kritik seni di media-media massa—terutama yang menyediakan rubrik/halaman khusus seni. Dan tentu model tulisan yang ada di sana adalah tulisan-tulisan yang serius, dibuat oleh para kritikus/teorisi/pemerhati seni rupa, berisi analisa-analisa tertentu atas fenomena seni rupa terkini. Tulisan ini dibuat untuk mendengar ucapan-ucapan, pendapat, komentar dari sisi penonton mengenai acara seni rupa yang dihadirinya, yang mungkin tidak pernah mendapat tempat dalam tulisan-tulisan seni rupa di media massa.

Biografi Penonton Teater di Indonesia: Yang Retak dan Bergerak

Sunday, August 29th, 2004

Beberapa tahun belakangan, saya baru menyadari bahwa saya begitu menikmati momen-momen ketika saya menyaksikan sebuah pertunjukan, apapun jenisnya. Saya suka menonton pementasan teater, pagelaran tari, konser musik, juga pertunjukan-pertunjukan seni tradisi (terutama di masa kecil saya). Kadang-kadang, saya sedih dan kecewa ketika pertunjukan yang saya saksikan ternyata tidak cukup mengesankan. Tapi sesungguhnya, baru beberapa tahun belakangan ini saya sadari, di luar apa yang terjadi di atas panggung, saya selalu suka dengan saat-saat ketika saya melebur dengan orang-orang lain yang secara kolektif disebut sebagai “penonton”. Saya menikmati betul menjadi bagian dari orang-orang yang tertawa ketika di panggung ada sesuatu yang terasa lucu, yang bertepuk tangan ketika pertunjukan usai, yang merasa kecewa ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan.

Nonton Bola di Gajayana: Sebuah Catatan Lapangan

Thursday, August 12th, 2004

Laki-laki muda sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter palig fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.