In the eye of the public the lean and tall guy is a professional dancer who most of the times plays humorous female characters. Didik Hadiprayitnoâs image as a comic dancer surfaced during the 1980âs in Yogyakarta when he succeeded in portraying through his humorous dance performance the traditional wooden doll of nini thowokâwhich was commonly played by Javanese children back in the old days. The name of the doll was later to become his popular nickname. Although the name of Didik Nini Thowok might be identified with comic dances, and humor might suggest something not serious or light, the following conversation with Didik will only prove the other way around. Humor is never about fooling around; to play a good comical character requires seriousness.
Latest Review
The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng
Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela merekaâsebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.
Latest English Section
Robert Wilsonâs I La Galigo and Beautiful Indonesia
Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilsonâs I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.
Latest Issue
Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla
Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).
Latest Portal
Archive for August, 2004
Entering, Being Inside and Outside Character
Monday, August 30th, 2004Kedai Kebun, Stories of Space and Interaction
Monday, August 30th, 2004A venue as one of the elements of art, in practice, has often been associated solely with its physical and material existence (a place) rather than its spatial concept which constitutes certain imagination and ambience constructed within (a space). Such restricted limitation or definition affects interaction within the performing space, either between artist and his/her space, audience and their space, or between artist and the audience.
Regarding the relationship between space and art (events), LeBur has asked me to share my (and Agung Kurniawan my husbandâs) experience in managing Kedai Kebun (a restaurant cum gallery and performing space) in terms of the following questions: What does space mean for an artist? What does it mean for the audience? Which factors that may perhaps affect artistsâ/audienceâs understanding and signification upon space? How does the venue manager âorganizeâ and mediate the traffic between the two dissenting interpretations of space? What sort of situation, then, would emerge when the two interpretations of space interact?
Biographical Notes on Theater Audience in Indonesia: The Fragmented and Animated
Monday, August 30th, 2004During the recent years, I realize how I have very much enjoyed moments when I watch performances. I like watching plays, dance performances, concerts as well as traditional performing art (particularly during my childhood). Sometimes I feel sad and disappointed when a performance fails to impress me. It is only recently, however, that I came to realize that in addition to what happens on stage, Iâve always enjoyed the moments when I merge with others that are collectively called âaudienceâ. I really enjoy being part of the laughing crowd when there is something funny on stage, applaud at the end of every show, and feel upset when a performance fails to meet our expectation.
Melongok âIndonesian Dance Festivalâ VII
Monday, August 30th, 2004Pada tanggal 14-17 Juli lalu, di Jakarta diselenggarakan Indonesian Dance Festival (IDF) VII/2004. Acara yang diadakan berkala ini merupakan kerja sama antar lembaga kesenian seperti Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (TIM), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), yang dimotori Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Seluruh acara berlangsung di TIM dan GKJ.
Festival bertema âInvisioning the Futureâ ini diikuti sejumlah koreografer yang terseleksi dan merupakan wakil dari beberapa negara, seperti Taiwan, Jepang, Belanda, Amerika dan Indonesia. Peserta dari Australia urung berpatisipasi karena mengalami cedera tangan.
Min Tanaka: Mengemas Perjalanan Waktu
Monday, August 30th, 2004Min Tanaka â nama besar dalam tari kontemporer Jepang itu â praktis tidak melakukan apa-apa. Dia hanya beranjak tua. Dalam penampilan kurang-lebih 80 menit yang khidmat di Gedung Kesenian Jakarta, 15 Juli 2004, beberapa ratus penonton menyaksikan dengan diam dan takjub bagaimana seseorang menjadi tua, buyutan dan terpencil di satu sudut dunia. Lelaki berusia 59 tahun itu seperti mengemas perjalanan puluhan tahun ke dalam dirinya, lalu menggelarkan dengan rinci setiap perubahan yang berlangsung pada tubuh, pada seluruh kemanusiaannya.
Pertunjukan bertajuk âIn Love with the Locusâ itu sudah dimulai selagi cahaya di deret bangku penonton masih menyala. Suara-suara percakapan mendadak tersirap ketika dari bagian belakang panggung yang dibiarkan terbuka â dengan beberapa penonton tercecer di salah satu sudutnya â sang penari diam berdiri mengenakan kimono dan topi di kepalanya, kemudian mulai berjalan tertatih dengan sepatu bot, melintasi panggung. Ia kemudian juga menuruni panggung, berjalan sampai di tengah-tengah penonton dengan gestur lamban yang lambat-laun menegaskan: seorang yang renta tengah berkutat dengan kesendiriannya.
Membaca Taktik: Catatan dari Festival A la Carte, JakArt@2004
Monday, August 30th, 2004Ary Sutedja, sekretaris umum festival, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa kelompok penggagas JakArt ini adalah sekelompok seniman dan bukan kelompok atau institusi event-organizer. Melalui pernyataan ini saya kemudian melihat bahwa festival ini (disadari atau tidak) adalah sebentuk representasi dari upaya seniman dalam membangun relasinya dengan berbagai peran di wilayah jelajah medan kreatifnya (negara, masyarakat penonton, seniman lain). Sebagai representasi, siapa (yang terlibat), apa, dan bagaimana JakArt tentu saja tidak dimaksudkan sebagai generalisasi atas seluruh seniman di Indonesia. Demikian juga halnya dengan narasi-narasi yang tercipta di dalamnya. Tetap saja narasi-narasi itu merupakan peristiwa-peristiwa spesifik dalam festival keliling JakArt@2004 yang baru lalu.
Kedai Kebun; Kisah Tentang Ruang dan Interaksi
Monday, August 30th, 2004Ruang sebagai salah satu elemen kesenian, dalam praktiknya selama ini, seringkali melulu dikaitkan dengan keberadaannya yang bersifat fisik dan material (place), bukan pada konsep ruang yang mewadahi imajinasi dan atmosfer tertentu yang terkonstruksi di dalamnya (space). Sempitnya batasan atau pengertian yang semacam itu, memberikan implikasi bagi interaksi yang terjadi dalam sebuah ruang pertunjukan, baik antara seniman dengan ruangnya, audiens dengan ruangnya, atau antara seniman dengan audiensnya.
Masuk, di Dalam, dan di Luar Peran
Sunday, August 29th, 2004Di mata khalayak luas, pria jangkung berpawakan ceking ini dikenal sebagai seorang penari handal yang sering membawakan peran-peran wanita humoris. Citra Didik Hadiprayitno sebagai penari humor menegas ketika pada tahun 1980-an di Yogyakarta ia sukses dengan pemunculan karya tarinya yang menggambarkan sosok boneka kayu permainan anak-anak di Jawa tempo duluânini thowokâsecara jenaka. Nama boneka itu kemudian menjadi nama populer yang disandangnya hingga kini. Meskipun nama Didik Nini Thowok seakan identik dengan tari humor, dan humor sering dikonotasikan dengan sesuatu yang tidak serius atau selera rendah, perbincangan dengan Mas Didik seperti disajikan di bawah ini menampik asumsi umum itu. Humor tidak sekedar main-main; untuk dapat memainkan peran humoris dengan baik diperlukan keseriusan.
Tentang Akting dan Bukan Akting
Sunday, August 29th, 2004Akting adalah berpura-pura, menirukan, merepresentasikan, memerankan. Seperti tampak jelas dalam Happening, tidak seluruh penggelaran (performing) adalah akting (acting). Meski akting kadang digunakan, pelaku dalam Happening umumnya cenderung tidak âmenjadiâ siapa pun selain dirinya sendiri; juga, dia tidak merepresentasikan atau berpura-pura sedang berada pada waktu atau tempat yang berbeda dengan penonton. Mereka berjalan, berlari, berkata-kata, bernyanyi, mencuci piring, menyapu, menjalankan mesin dan peralatan pentas dan seterusnya, tetapi ketika melakukannya mereka tidak sedang menirukan atau memerankan orang lain.
Reality (Show) Bites Kenyataan dan Tontonan di Televisi
Sunday, August 29th, 2004Belakangan di televisi banyak digunakan istilah yang segera menjadi akrab di telinga banyak orang. Sementara itu, beberapa media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) berupaya memadankannya dengan kata dalam bahasa Indonesia, acara kenyataan; entah sebab jengah atau merasa bersalah. Bicara singkat, ada dua kata (konsep) yang dijejer di sini: kenyataan dan acara (yakni tontonan, atau âbukanâ kenyataan). Bagaimana bisa?