7 February 2012 12:49:26 AM | 13369 total visits.

HIGHLIGHTS

Latest Review

The Destiny of Dewi Sri; Pertemuan Dewi Padi dan Peri Kaleng

Belum tepat jam delapan malam, tapi penonton telah berdatangan dan mengambil tempat mengelilingi desa ciptaan itu. Sebuah makam cina berdiam di sesela mereka—sebuah alasan kenapa teater terbuka ini acap disebut Teater Bong. Yang datang bukan hanya peminat seni pertunjukan pada umumnya, tetapi juga warga kampung sekitar Taman Budaya Surakarta, juga warga kampung beberapa person yang terlibat seperti warga Bonoroto yang sebagian warganya terlibat dalam pertunjukan, juga hadir memenuhi undakan-undakan batu yang mengelilingi arena.

Latest English Section

Robert Wilson’s I La Galigo and Beautiful Indonesia

Teater Tanah Air (trans: The Mother Land Theater), where Robert Wilson’s I La Galigo was performed, stands in the midst of dying monument sites. Located behind the Cultural Park station and across the miniature traditional house of Bengkulu province, the theater is a part of the replica of the archipelago established in 1970. This national park, called Taman Mini Indonesia Indah (Beautiful Indonesia in Miniature Park), is Indonesia I thought I knew 20 years ago, a version of Indonesia that has been interrogated for the last decade.

Latest Issue

Tubuh Masyarakat Remaja di Panggung Gardanalla

Tulisan ini saya bayangkan lebih sebagai upaya berbagi pengalaman, ketimbang upaya teoritis melihat sebuah praktik kesenian. Di dalamnya saya akan memfokuskan tentang pengalaman saya (selaku sutradara Teater Gardanalla) dalam memproduksi tiga drama remaja yakni Ayahku Stroke tapi Nggak Mati (2003, 2005), Ah, Kamu! (2004) dan juga Jalur 17 (2005). Saya akan bercerita bagaimana Gardanalla melihat tubuh sosial (remaja) dan memanggungkannya dengan dasar kajian kehidupan sehari-hari (everyday life studies-terutama remaja).

Latest Portal

Archive for April, 2004

adam’s anatomy in the dark; a house of nama saya adam TANPA HURUF KAPITAL theatrical process

Monday, April 26th, 2004

theater grows in the lawn outside you house, approaching the sun. and all objects revolve around your senses. all texts excrete from your body, reflecting your other self. feeling perpetually estranged. you have to take some somnifecient to forget it.

but inside your house lies poetry and myth. poetry and myth which you would not easily forget. poetry and myth which keep reproducing themselves. then you bring them to the theater just outside your house. a house built of flour. a house from where everything began. therefrom you denounced all of your personal -hidden realities, as your own defacation. a place for you to bring back all the new definition of the ever saturating life.

Performances of the Post-New Order

Monday, April 26th, 2004

This essay was inspired by a series of interruptions. While I was working on my PhD, looking at contemporary theatre in post-New Order Indonesia, my research was constantly – and fantastically – disrupted by large rallies or demonstrations taking place around Jakarta. Luckily, the more I watched demos, the more interesting they became. And in many cases, the demos were more interesting than the theatre performances I was ‘meant’ to be watching.

Wayang Air: Sebuah Pertunjukan Eksploratif

Monday, April 26th, 2004

Pada tahun 2003 Slamet Gundono mengguriskan suatu penjelajahan baru dalam kiprahnya di dunia seni pertunjukan. Kata baru pada pernyataan di atas merujuk pada apa yang telah dilakukannya selama ini. Jika sebelumnya Slamet Gundono dikenal sebagai orang yang mempopulerkan Wayang Gremeng, Wayang Mbeling, Wayang Nglindur dan Wayang Suket, kali ini dia menyebut repertoirnya dengan istilah yang tidak kurang memancing rasa ingin tahu: Wayang Air.

WAYANG AIR; BIOGRAFI YANG MENGALIR

Monday, April 26th, 2004

Dorothea Quin bangkit dari tidurnya, dari bak mandi, seperti bangun dari sebuah mimpi buruk atau telaga. Air memancar dari selang plastik yang digenggamnya. Memancar ke mana-mana. Seperti berusaha bercerita tentang sesuatu yang baru saja menghantuinya. Ia melecut selangnya beberapa kali sebelum dengan sebuah kemarahan, yang sangat, ia berdiri tegak di atas gigir bak dan menggoyangkannya sekuat tenaga. Air di bawah tubuhnya bergolak. Mendidih. Sementara ia terus melecutkan selangnya membabi buta, menyampaikan air sejauh mungkin.

Adam Perempuan dari Makassar TEATER DARI METAFORA TANPA JENIS KELAMIN

Friday, April 23rd, 2004

Teater datang padamu seperti rumah metafora. Menghidupkan kembali memorimu (yang telah menjadi “binatang penafsir* dalam berbagai bentuk prasangka). Merajutnya menjadi sebuah konstruksi lain yang mungkin akan membuatmu heran, karena memorimu akan menjelma menjadi banyak jendela untuk melihat kembali kualitas kehidupan pribadimu dan kehidupan di sekitarmu.

Rumah metafora itu bukanlah sebuah keputusan kualitatif juga bukan keputusan moral. Dia hanya bekerja membuat permainan di tingkat pengkodean (berbagai konsep yang menjadi sumber penjelasan dalam kehidupan komunikasi). Maka jangan sedih kalau ada seorang perempuan membuat penis lelaki dari tepung dan mentega, lalu mulai membongkar lorong gelap wacana lelaki dari mitos Adam dalam sebuah pertunjukan yang dibuatnya.

anatomi adam dalam kegelapan

Friday, April 23rd, 2004

teater tumbuh di halaman rumahmu, mengarah ke sinar matahari. dan semua benda beredar di sekitar panca inderamu. semua teks keluar dari tubuhmu, memantulkan dirimu yang lain. yang terus merasa asing. kau harus menelan obat tidur agar bisa melupakannya.

tapi di dalam rumahmu ada puisi dan mitos. puisi dan mitos yang tak bisa kau lupakan begitu saja. puisi dan mitos yang terus mereproduksi dirinya. lalu kau membawanya ke dalam teater yang tumbuh di halaman rumahmu. rumah yang kau bangun dari tepung. rumah, tempat segalanya bermula; tempat kenyataan–kenyataan tersembunyi yang sifatnya personal kau umumkan kepada orang banyak sebagai upaya defakasi (pembebasan-diri,-ed.) dirimu. rumah tempatmu membawa pulang seluruh pemahaman baru tentang hidup yang kian menebal.

Pergelaran Pasca-Orde Baru

Friday, April 23rd, 2004

Esai ini diilhami serangkaian interupsi. Ketika saya sedang bekerja menyiapkan disertasi saya, mengamati teater kontemporer di Indonesia pasca-Orde Baru, riset saya selalu saja – dan secara fantastis – terpenggal-penggal oleh kampanye atau unjukrasa besar-besaran yang berlangsung di seputaran Jakarta. Untungnya semakin saya perhatikan, demo-demo itu jadi lebih menarik daripada pergelaran teater yang ‘mestinya’ saya tonton.

Memori Tradisi dalam Teater Asia Ramli Prapanca; sebuah wawancara

Friday, April 23rd, 2004

“Aku hidup di dua dunia: Teater dan Puisi. Seluruh pikiran dan perasaan kutumpahkan di sana”, berulang ia nyatakan ini pada banyak orang, seperti hendak menegaskan dirinya. Ia, Asia Ramli Prapanca, salah satu sutradara teater terkuat di Makassar saat ini. Karya-karyanya, dari beberapa yang sempat saya saksikan secara langsung maupun lewat dokumentasi video pertunjukannya, selalu tampil dalam logika narasi dan idiom-idiom visual yang imajinatif, liar, lucu dan mengejutkan. Idiom-idiom visual dalam pertunjukannya yang kuat itu merupakan hasil kerjasamanya yang panjang dengan Is Hakim, penata skenografi dan aktor Teater Kita, yang berulang ia nyatakan pada saya di sepanjang wawancara ini.

Performance & Performative

Thursday, April 8th, 2004

Hujan deras. Truk yang akan membawa para pengungsi itu kembali ke Afghanistan telah menunggu. Setelah membantu memakaikan sepatunya yang terlepas di tanah yang becek, pemuda itu memandang lekat-lekat gadis di hadapannya, memanfaatkan menit terakhir kebersamaan mereka. Gadis itu balas menatap, dan sedetik kemudian, tanpa melepaskan pandangan, dengan sebuah sentakan yang halus ia membalik kerudung burkanya yang sebelumnya tersibak ke belakang, menutupi seluruh wajah kecuali sepasang matanya yang masih juga menatap pemuda itu dengan pancaran tak tergambarkan. Setelah itu, ia berpaling dan masuk ke dalam truk yang kemudian membawanya pergi pulang.

Kota dan Estetika dalam Journal of Moment Arts 2003

Monday, April 5th, 2004

Pada tanggal 20-25 Oktober tahun 2003 lalu, di Makassar, berlangsung sebuah peristiwa (event) seni yang memiliki banyak hal berharga untuk dicatat; Journal of Moment Arts (JOMA) 2003. Event yang juga disebut sebagai ‘forum seni outdoor’ ini berlangsung setiap tahun sekali, dimulai pada tahun 2000, dan merupakan program kerja reguler Sanggar Merah Putih Makassar –sebuah kelompok kesenian yang lebih dikenal publik seni di luar kota Makassar sebagai kelompok teater, meskipun sesungguhnya sejak awal organisasi ini didirikan pada tahun 1978 juga mewadahi minat dan aktivitas kesenian lain: musik, rupa, tari dan sastra.